Hadapi New Normal, Garuda Bakal Naikkan Harga Tiket Pesawat?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 02 Jun 2020 17:21 WIB
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) datangkan pesawat Boeing 777-300ER untuk melayani penerbangan haji mulai Agustus 2015. Hari ini maskapai pelat merah itu menerima B777-300ER ketujuhnya di Hanggar 2 Garuda Maintenance Facilities (GMF), kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Rachman Haryanto/detikcom.
Garuda Indonesia/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama pemberlakuan new normal. Hal itu berdampak ke bertambahnya biaya, sementara kondisi keuangan sedang sulit.

Lalu, apakah Garuda bakal menaikkan harga tiket pesawat?

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra akan mengkaji kembali harga tiket karena adanya penurunan kapasitas penumpang. Terkait kenaikan tiket ini sudah didiskusikan bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub)

"Ini perlu kami diskusikan bersama, kami terus-menerus berkomunikasi dengan Kemenhub untuk memastikan bahwa industri ini punya napas berkelanjutan. Atas keberlanjutan ini memastikan bahwa setiap penerbangan memperoleh peruntungan. Kalau distancing ini harus dipastikan dilakukan, tentu saja kita mesti me-review harga dari penerbangan tersebut," kata Irfan melalui telekonferensi, Selasa (2/6/2020).

Meski begitu, dirinya memastikan kenaikan harga tiket tidak akan begitu tinggi. Selama new normal pihaknya harus melakukan berbagai pemeriksaan ketat yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"PCR test yang Rp 2,5 juta itu jauh lebih mahal dari biaya bepergian dari satu tempat ke tempat lain khususnya yang berdekatan seperti dari Jakarta ke Surabaya. Apalagi kalau kita bepergian lebih dari 7 hari, kita mesti melakukan PCR test beberapa kali sehingga biayanya bisa Rp 5 juta, sementara perjalanannya saja bolak-balik Rp 1,5 juta," ungkapnya.

Irfan menyebut hal itu akan membuat penumpang berpikir dua kali untuk naik pesawat. Namun bagaimanapun itu dilakukan demi keberlanjutan bisnis.

"Tidak dapat dipungkiri ke depan yang naik pesawat terbang masuk klasifikasi orang-orang yang harus terbang. Orang-orang yang mau terbang yang selama ini masuk ke bandara mungkin harus berpikir 2-3 kali karena pertama lebih ribet, lebih kompleks prosesnya. Kedua mungkin akan lebih mahal," imbuhnya.



Simak Video "Pramugari Garuda Pakai Face Shield Ketimbang Baju APD, Ini Kata Dokter"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)