Garuda Batasi Kapasitas Penumpang Hanya 63%

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 16 Jun 2020 13:30 WIB
Maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengenalkan pesawat baru dengan kabin mewah di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (1/2/2016). Layanan kabin mewah itu terpasang pada armada terbaru Garuda, Airbus 330-300. Di dalam kabin A330, terdapat layanan kursi Super Diamond Seat yang khusus untuk melayani penumpang kelas bisnis. (Ari Saputra/detikcom).
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Melalui Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2020 tentang Operasional Transportasi Udara dalam Masa Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman dari COVID-19, pemerintah menetapkan kapasitas pesawat maksimal 70%.

Menurut Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra, ketentuan itu tak bisa sepenuhnya diterapkan di maskapai pelat merah tersebut. Dengan susunan kursi yang berbeda dengan maskapai dalam negeri lainnya serta protokol physical distancing, batas kapasitas penumpang di Garuda maksimal hanya 63%.

"Tapi itu kalau untuk khususnya Garuda jatuhnya 63%. Karena tempat duduk 737 kita itu tengahnya kosong, kita kan juga ada business class, nah itu jadi sendiri-sendiri," kata Irfan dalam webinar Studium Generale Binus University, Selasa (16/6/2020).

Dengan kapasitas tersebut, menurutnya tak cukup untuk menghidupi maskapai. "Apakah itu cukup untuk menghidupi kita? Tentunya tidak. jawabannya tegas sekali nggak. Tapi kan pilihannya jelas hari ini," tutur Irfan.

Meski kondisi perusahaan sangat tertekan dengan keterbatasan ini, namun ia tak akan memaksakan pesawat Garuda untuk mengangkut penumpang dengan kapasitas penuh.

"Kalau kita ngotot mau ngisi 100%,. saya sampaikan ke teman-teman di penerbangan, jangan ngotot 100% lah. This is not about us, ini bukan persoalan kita ngotot dengan teman-teman di Departemen Perhubungan. Begitu ini krisis 100%, dempet-dempetan di pesawat, yang terjadi masyarakat nggak confident dengan transportasi udara," ujarnya.

Menurut Irfan, memaksakan kapasitas penumpang 100% pada akhirnya akan memperlambat recovery perusahaan di tengah pandemi.

"Kalau masyarakat nggak confident apa yang terjadi? Recovery process kita yang menurut banyak analis penebangan 2-3 tahun ini makin panjang. Dan kalau recovery nggak cukup, survival mood kita makin nambah. Dalam teori apa pun survival mood itu nggak bisa lama-lama, itu sudah dying, mati suri kalau lama-lama," pungkas Irfan.



Simak Video "Eks Direktur Garuda Didakwa Terima Suap dan TPPU Pengadaan Pesawat"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)