Gap Si Kaya-Si Miskin Kian Nyata saat Corona, Saham Biang Keroknya

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 12:36 WIB
Rambu jalan menunjuk bursa saham New York atau yang dikenal sebagai Bursa Saham Wall Street.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kesenjangan sosial antara si kaya dan miskin makin nyata di tengah pandemi Corona, khususnya di Amerika Serikat. Kepemilikan saham disebut sebagai salah satu pemicunya.

Pasalnya, saat ini sedang terjadi kenaikan besar-besaran indeks S&P 500 (INX) selama 12 minggu terakhir. Harga saham AS telah meningkat berkat dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Federal Reserve.

Mulai dari triliunan stimulus pemerintah dan optimisme atas pemulihan ekonomi yang cepat, dan ada beberapa bukti bahwa investor yang lebih kecil telah mendorong kebangkitan bursa saham AS.

Mengutip CNN, Kamis (18/6/2020), yang jadi masalah utama adalah penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan saham sangat terkonsentrasi di antara orang kaya, dengan 10% rumah tangga AS terkaya memiliki 84% dari semua saham. Itu pun data pada tahun 2016, tahun terakhir Federal Reserve telah merilis data.

Sehingga hanya segelintir orang saja yang mendapatkan manfaat atas naiknya saham, dan itu adalah orang kaya. Sementara banyak orang yang mulai jatuh miskin karena kehilangan pekerjaan dan tidak bisa menikmati instrumen saham.

Edward Wolff, seorang profesor di New York University yang berfokus pada kesenjangan kekayaan dan menganalisis data Fed 2016 menyatakan, sejak awal 2000-an, keluarga kelas menengah keluar dari pasar saham.

Mereka juga disebut menghadapi tekanan keuangan yang berkelanjutan, dan banyak yang tidak pernah kembali memegang saham. Sementara orang kaya memegang saham mereka.

"Pendapatan keluarga rata-rata belum benar-benar naik selama 20 tahun. Ada banyak tekanan finansial pada kelas menengah sehingga mereka belum benar-benar memperluas kepemilikan saham mereka," ungkap Edward.

Lebih sensitif, perbedaan ini juga terjadi di sepanjang garis demografis AS. Menurut laporan tahun 2017 dari Federal Reserve, lebih dari 60% keluarga kulit putih memiliki saham, baik secara langsung atau melalui rekening pensiun. Namun, jika dibandingkan, hanya ada sekitar 30% keluarga kulit hitam dan hispanik yang memiliki saham.

Saham memang bukan satu-satunya cara untuk menumbuhkan kekayaan. Tetapi rumah tangga berpendapatan tinggi cenderung menabung lebih banyak, sehingga memberi mereka peluang lebih besar untuk berinvestasi.

Rumah tangga ini kemudian dapat meningkatkan pengembalian aset mereka seperti saham untuk terus mengembangkan portofolio keuntungan mereka.

isi tas


Simak Video "Anggap Divestasi Saham Freeport Bohong, PA 212 Bakal Gelar Aksi"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)