Tak Kunjung Usai, Badai PHK Kapan Berlalu?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 25 Jun 2020 06:00 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai badai pemutusan hubungan kerja (PHK) masih akan berlanjut sekalipun kegiatan perekonomian sudah kembali berjalan dengan dilonggarkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama pandemi COVID-19.

"Kalau misalnya ditanya apakah gelombang PHK itu masih terjadi, kalau menurut saya potensinya memang masih ada, karena meskipun pelonggaran (pembatasan sosial) itu sudah dilakukan tapi nyatanya kan itu tidak akan serta merta secara cepat itu proses bisnis akan berjalan normal seperti sebelum terjadinya pandemi," kata dia saat dihubungi detikcom, Rabu (24/6/2020).

Apalagi nyatanya kasus baru positif COVID-19 masih terus meningkat. Hal itu menurutnya akan mempengaruhi kinerja perekonomian secara nasional.

"Kalau menurut saya memang akan tetap ada potensi untuk masih terjadinya PHK karena proses transisi ini kan sebenarnya ditunjukkan untuk proses pemulihan ekonomi nasional. Tetapi kan kalau kita melihat tren kasus secara nasional meningkat itu tentu akan berpengaruh terhadap kinerja ekonomi secara keseluruhan," ujarnya.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto juga menilai saat ini belum mencapai puncak badai PHK. Itu disebabkan oleh pelemahan kegiatan ekonomi.

"Jadi ini belum puncaknya untuk semua industri. Artinya gelombang PHK ini memang akan terus terjadi," ujarnya.

Apalagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2020 diproyeksikan akan negatif. Sementara pada kuartal pertama masih tumbuh positif tapi badai PHK sudah terjadi.

"Triwulan kedua kan kemungkinan negatif, lebih parah, dari gelombang PHK ini masih akan berlanjut sampai kemudian mungkin ada recovery ekonomi," tambahnya.

Baru-baru ini pun PHK menerjang Gojek. Baca di halaman selanjutnya.

Gojek Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 430 karyawannya. Mayoritas yang di-PHK berasal dari divisi terkait dengan GoLife dan GoFood Festival.

Jumlah karyawan yang kena PHK setara dengan 9% dari total karyawan yang mencapai 4.000 orang. Kabar tersebut dibenarkan oleh manajemen Gojek.

"Sebanyak 430 karyawan (9 persen dari total karyawan), yang sebagian besar berasal dari divisi yang terkait dengan GoLife dan GoFood Festival, akan meninggalkan Gojek sebagai bagian dari evaluasi terhadap struktur perusahaan secara keseluruhan. Ini merupakan satu-satunya keputusan pengurangan karyawan yang Gojek lakukan di tengah situasi COVID-19," demikian pernyataan pihak Gojek dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2020).

Ada dua keputusan utama yang diumumkan seiring ditetapkannya strategi tersebut. Pertama, dihentikannya sejumlah layanan non-inti yang terdampak pandemi. Kedua, perampingan struktur perusahaan secara menyeluruh untuk mengoptimalisasi pertumbuhan yang berkesinambungan di masa mendatang.

"Layanan GoLife yang meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi, akan dihentikan," ujar pihak Gojek.

Keputusan itu diambil berdasarkan evaluasi atas situasi makro ekonomi dan perubahan perilaku masyarakat yang menjadi lebih waspada terhadap aktivitas yang melibatkan kontak fisik ataupun kegiatan yang tidak memungkinkan untuk berjaga jarak.

Ditambahkan, kedua bisnis tersebut, yakni GoLife dan GoFood Festival membutuhkan interaksi jarak dekat, dan mengalami penurunan permintaan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan pandemi COVID-19. Aplikasi GoLife dapat digunakan hingga 27 Juli 2020.

Lalu kapan badai PHK berlalu? Lanjut di halaman berikutnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan badai PHK baru akan mereda pada akhir tahun, tepatnya mulai kuartal IV-2020.

"Di kuartal keempat itulah kita bisa berharap lah ya proses dari gelombang PHK itu sedikit sudah mulai akan berkurang lah ya," kata dia saat dihubungi detikcom, Rabu (24/6/2020).

Itu bisa dicapai dengan catatan bila program pemulihan ekonomi nasional bisa efektif dijalankan pada kuartal IV.

"Artinya begini, bantuan ini, dana anggaran pemulihan ekonomi nasional ini memang dia masih akan terjadi dinamika perbaikan di kuartal ketiga sehingga dia belum akan efektif. Dia mulai akan terasa kalau menurut saya akan terasa efektifnya itu justru di kuartal keempat di tahun ini," ujarnya.

Sementara Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai sektor yang perlu didukung secara penuh untuk meredam PHK adalah usaha mikro, kecil, dan menengah.

"Mungkin tetap diutamakan untuk menyelamatkan sektor yang punya stimulasi daya beli tinggi. Apa itu? ya memang harus UMKM karena orang yang bekerja di UMKM itu prinsipnya mereka cepat memutar modal dan cepat juga mengkonsumsi," ujarnya.

Jadi, lanjut dia kalau UMKM mendapatkan kecukupan modal maka mereka akan cepat memutar uangnya.

"Ujung-ujungnya nambah tenaga kerja, tenaga kerja bisa kerja, nanti mereka punya daya beli. Punya daya beli pun pasti mereka nggak akan tabung, mereka akan konsumsi. Itulah sebenarnya yang akan menggerakkan ekonomi sehingga strategi paling jitu menurut saya dalam situasi sekarang ya full support untuk UMKM," tambahnya.



Simak Video "Indosat M2 Dibubarkan, 350 Karyawan Di-PHK dan Siap Demo"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)