Menimbang Ajakan Kang Emil Buat Tak Ngantor di Jakarta

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 29 Jun 2020 08:21 WIB
Presiden Joko Widodo hari mengunjungi mal yang berada di Bekasi. Kedatangannya itu untuk meninjau kesiapan Bekasi menjalankan skema new normal.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengajak masyarakat untuk menjauh dari Jakarta karena kasus penyebaran COVID-19 masih tinggi. Ia pun menyerukan agar tidak lagi ngantor di Jakarta dan produktif di Jawa Barat.

Terkait hal tersebut, Analis Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah menilai hal tersebut patut diapresiasi. Terlebih itu terkait dengan upaya memutus mata rantai virus Corona.

"Bagi sebuah kebijakan kepala daerah mengharapkan masyarakatnya untuk tidak ke Jakarta atau tidak meninggalkan daerahnya sebagai sebuah azas tentu kita apresiasi bagi sebuah pemikiran yang inovatif. Dalam arti bahwa karena kebetulan kaitannya memutus mata rantai penyebaran COVID," katanya kepada detikcom, Minggu (28/6/2020).

Namun, untuk implementasinya ia menilai bukan perkara mudah. Bahkan, ia menyebut sebagai sebuah mission impossible.

"Sekarang bagaimana dengan implementasinya, sebuah kebijakan kan harus diimplementasikan menurut saya implementasi pemikiran itu utopia karena masyarakat kita ini Jakarta dan Jawa barat pada umumnya mobilitasnya sangat tinggi di tengah masyarakat yang makin modern, makin maju meskipun teknologi juga ada," paparnya.

"Saya kira mission impossible untuk tetap di tempatnya sendiri kemudian tidak melakukan aktivitas di wilayah lain," sambungnya.

Menurutnya, pemikiran itu sangat kompleks untuk direalisasikan. Apalagi, Jakarta dan Jawa Barat terikat dalam sebuah kebudayaan masyarakat yang mendorong untuk bertemu.

"Budaya masyarakat kita yang bersamaan, kadang-kadang, kerjaan hanyalah merupakan entry point untuk saling bertemu kalau pemisahan administrasi hanya bersifat kemudahan di dalam birokrasi," ujarnya.

Dia juga menuturkan, tidak semua pekerjaan juga terselesaikan meskipun ada teknologi.

"Menurut saya dari sisi sosial network yang sangat rumit meskipun ada teknologi tapi kan pekerjaan tidak semata-mata urusan teknologi ada pekerjaan yang tidak bisa ditangani teknologi juga. Negosiasi ketemu klien, lobi-lobi atau sifatnya faktor teknis kan akan ketemu," ujarnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3