Rambah Online, Penjualan Pedagang Sembako Naik 3 Kali Lipat

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Selasa, 07 Jul 2020 12:28 WIB
Toko sembako
Foto: Dok. Instagram/Grab Indonesia
Jakarta -

Adanya pembatasan sosial membuat banyak orang yang enggan pergi ke pasar untuk berbelanja. Mereka lebih memilih belanja secara online untuk menghindari penyebaran COVID-19 yang tak kunjung usai hingga hari ini. Kondisi ini membuat para pedagang harus mencari cara agar terus bertahan.

Salah satu pedagang sembako, Jessyca Putri Maslie, terdorong untuk berinovasi menjual dagangannya secara online sejak tiga bulan lalu. Toko sembako yang telah ia jalankan bersama orang tuanya sejak 2004 silam ini pun mulai merambah ke ranah digital.

"3 bulan ini, aku coba buka usaha online. Orang tua masih ke pasar sampai jam 11. Habis itu aku lanjut online. Jadi, aku online. Orang tua, offline," ungkap Jessyca dalam Instagram resmi Grab yang dikutip detikcom, Selasa (7/7/2020).

Meskipun kini kondisi pasar sudah berangsur ramai, tapi ia memilih untuk terus melanjutkan usaha sembako online-nya. Ia mengatakan sejak masuk ke ranah online, penjualannya justru naik tiga kali lipat.

Ia juga mengatakan bahwa kunci untuk membuat usaha sembakonya tetap bertahan dan bahkan semakin ramai yaitu dengan memberikan harga normal. Ia mengatakan banyak pedagang yang menaikkan harga di awal pandemi, tapi ia memilih untuk tidak menaikkan harga kepada para pelanggannya."Pasar sih udah kembali ramai. Tapi kami belajar dari pengalaman, dan online akan terus dilakukan. Kenapa, karena online, kita bisa #TerusUsaha, dan malah naik penjualan 3 kali lipat!" ucapnya.

Jessyca mengaku tak mudah mengembangkan usahanya ke ranah digital hingga bisa meningkatkan penjualannya. Ia menceritakan suka duka saat pertama kali mencoba berjualan secara online.

"Aku jadi belajar, bagaimana jualan online. Awal-awalnya itu, barang cuma aku taruh di Instagram, buat langganan deket rumah, yang biasa ke toko. Kalau mau beli, mereka bisa liat barangnya di IG, dan aku sama mama yang anter-anterin barangnya. Lama-lama terasa cape juga, dapatnya nggak seberapa. Akhirnya, aku mendaftarkan Toko Sembako Yenny ke jaringan toko online, dan dalam tiga bulan, 3.500 produk terjual. Apa semua orang jadi belanja online ya?," ujar Jessyca.⁣

Toko sembakoToko sembako Foto: Dok. Instagram/Grab Indonesia

"Pas awal-awal pandemi, banyak orang yang naikin harga. Tapi toko kami nggak naikin harga. Toh, dari supplier naiknya masih wajar. Jadi harga ya sewajarnya aja, nggak perlu aji mumpung. Mungkin itu yang membuat toko langsung ramai. Harga kita normal dibanding yang lain," ⁣ tuturnya.


Untuk mendistribusikan barang-barang kepada pelanggan, kini ia memakai jasa antar dari Grab. Semenjak menggunakan Grab, ia juga bisa menjangkau pasar yang lebih luas tak hanya di sekitar rumah atau pasar saja. Ia juga berharap pelanggannya memberikan alamat yang sesuai untuk memudahkan para driver mengantarkan barang-barang sembako darinya.

"Sekarang, enaknya, pelanggan perlu cepet bumbu masakan, tinggal di Grab. Kalo mau di Grab pagi, mereka sudah chat dari malem, nggak anter sendiri lagi, nggak cape. Terus bisa menjangkau lebih luas, nggak cuma tetangga. Paling ya, pelanggan jangan salah kasih alamat kantor, lupa kalo WFH. Kasian driver. Mereka ke kantor dulu, baru ke rumah, jadi 2x ongkir," pungkasnya.⁣

(prf/ara)