Ancaman Krisis Mengintai, Ini Prediksi Ekonomi RI Setelah New Normal

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 13 Jul 2020 16:21 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sampai September 2018 sebesar 5,17%.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pandemi virus Corona membuat beberapa lembaga internasional merilis proyeksi ekonomi dunia minus. Salah satu proyeksi tersebut berasal dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang memprediksi ekonomi global minus 6% hingga 7,6%.

Bagaimana dengan ekonomi Indonesia?

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan pelonggaran lockdown di berbagai negara mulai memberikan dampak positif terhadap ekonomi. Hal ini dapat menjadi angin segar terhadap pertumbuhan perekonomian.

"Sejalan dengan ekspektasi pasar dan berbagai lembaga Internasional yang memproyeksikan bahwa ekonomi dapat membaik secara gradual di semester II-2020 dan di 2021 apabila COVID-19 dapat ditangani dan ekonomi dapat kembali dibuka," kata Katarina melalui kepada detikcom, Senin (13/7/2020).

Meski begitu, kasus gelombang II Corona (second wave) menjadi ancaman. Adanya gelombang II Corona dapat mempengaruhi proses pemulihan ekonomi.

"Oleh karena itu dalam masa transisi di kuartal III ini kami memandang ekonomi berpotensi mulai menunjukkan sinyal perbaikan walaupun secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi masih relatif lemah. Kondisi ini akan diimbangi oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di kuartal IV-2020 dan ke depannya setelah Indonesia melewati periode transisi dan sudah beradaptasi pada kondisi new normal," ucapnya.

OECD memperkirakan bahwa wabah gelombang II Corona dapat mempengaruhi potensi pemulihan ekonomi di 2021. OECD memproyeksikan ekonomi Amerika Serikat (AS) dapat tumbuh 4,1% di 2021 dengan skenario tidak ada gelombang II. Namun apabila terjadi second wave, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan hanya tumbuh sekitar 1,9% di 2021.

Meski begitu, pembukaan ekonomi dinilai tetap bisa dilakukan beriringan dengan tetap mewaspadai penyebaran COVD-19. Kedisiplinan masyarakat dalam melakukan usaha pencegahan COVID-19 dan kapabilitas pemerintah untuk melakukan 3T (Test, Track, Treat) dianggap menjadi kunci untuk suksesnya transisi ke periode new normal.

"Negara di kawasan Asia Utara seperti China, Korea Selatan, Taiwan, dan juga kawasan Uni Eropa sukses melakukan pelonggaran lockdown dan menjaga tingkat kasus COVID-19 tetap rendah, sehingga pemulihan ekonomi dapat terjadi dalam fase new normal," imbuhnya.



Simak Video "Tambah 2.473, Kasus Corona RI Jadi 121.226"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)