Nyangkut di Bandara, Bahan Baku Alat Tes Corona Rusak Sebelum Dipakai

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2020 19:25 WIB
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan sejumlah kendala untuk memproduksi alat tes COVID-19 di Indonesia, mulai dari pemenuhan bahan baku dan proses distribusinya.

"Sulitnya mendapatkan bahan baku," kata dia dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (14/7/2020).

Bahkan untuk bahan baku yang sudah diimpor pun kerap tertahan di bandara maupun pelabuhan. Hal itu membuatnya rusak sebelum diproduksi menjadi barang jadi.

"Pengalaman kami dalam rapid test karena ada bahan baku yang masih harus diimpor, kadang-kadang terlambat atau terhambat atau terlalu lama di bandara atau di pelabuhan, sehingga ketika sampai pabriknya kadang-kadang sudah rusak dan itu terjadi di tahapan awal waktu produksi rapid test," ujarnya.

Masalah lainnya adalah reengineering produk inovasi yang terkadang menghabiskan dana yang besar dan waktu yang lama, serta sulitnya untuk memproduksi secara massal prototipe yang sudah dihasilkan.

"Dan ini kami alami contohnya ketika menghasilkan rapid test, ketika kita bawa ke pada industri ternyata belum banyak perusahaan farmasi alat kesehatan yang siap untuk memproduksi rapid test dalam skala besar," ujarnya.

Isu strategis lainnya, lanjut dia adalah standarisasi material medis yang masih lemah. Ini terjadi baik di BSN sebagai badan sertifikasi nasional, dan juga terjadi ketika dilakukan pengujian untuk alat kesehatan yang relatif baru.

"Ketika misalkan kami melakukan, meminta pengujian untuk ventilator ICU, ternyata ada sedikit hambatan di Kemenkes karena belum terbiasa untuk melakukan pengujian terhadap ventilator yang berbasis di ICU tersebut," tambahnya.



Simak Video "Intip Teknologi Biosensor Pendeteksi COVID-19 dalam 3 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)