Begini Tren Investasi di Indonesia Sejak Ada Corona

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 17 Jul 2020 15:16 WIB
ilustrasi investasi
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Besarnya dampak pandemi virus Corona (COVID-19) mempengaruhi arus investasi di dalam negeri. Pemerintah bahkan telah merevisi target capaian investasi tahun anggaran 2020 ini diturunkan menjadi Rp 817,2 triliun dari target awal Rp 886,1 triliun.

Bahkan, bila sampai Juli 2020 ini tidak banyak perubahan berarti, maka target tersebut akan direvisi kembali.

"Kalau kita lihat dari realisasi investasi di triwulan I-2020, kita masih bisa mencapai Rp 210,7 triliun atau 23,8% dari target awal. Target kita awalnya adalah Rp 886 triliun, tapi setelah ada COVID-19 kita revisi dan kalau sampai Juli ini bisa tuntas Rp 817 triliun, kalau belum selesai maka kita bisa merevisi lagi," kata Juru Bicara/Komite Penanaman Modal BKPM Tina Talisa dalam acara diskusi dengan BNPB Indonesia bertajuk 'Investasi dan Pelaksanaan di Lapangan yang sesuai Protokol COVID-19', Jumat (17/7/2020).

Meski begitu, dampak pandemi terhadap investasi Indonesia tidak selalu buruk. Menurut Tina, ada perubahan signifikan yang terjadi pada iklim investasi di Indonesia sejak adanya COVID-19.

Semenjak ada COVID-19, iklim investasi deras mengalir dari sektor UMKM, padahal selama ini investasi kerap diidentikkan dengan suntikan modal yang besar dan berasal dari asing.

"Dalam data kami, selalu jumlah persentase itu lebih besar itu teman-teman UMKM, ini menunjukkan bahwa investasi itu tidak selalu besar, itu tidak selalu asing. Dari Juni kemarin ada tambahan NIB (Nomor Induk Berusaha) 57 ribu, ada 57 ribu yang mendaftarkan diri, yang mana di atas 50% nya adalah UKM (Usaha Kecil dan Menengah) atau ada 37 ribu yang pelaku UKM, itu membuktikan investasi itu tidak selalu besar, tidak selalu asing," ungkapnya.

Dari sisi sektornya pun ada perbedaan mencolok antara sebelum dan sesudah COVID-19. Sebelumnya, pelaku usaha di sektor perdagangan selalu dominan dibanding sektor-sektor lainnya. Akan tetapi, sejak ada COVID-19, pelaku usaha di sektor kesehatan justru langsung menjadi yang dominan.

"Sebelum kita Covid, kalau dari IOK (izin operasional/komersial) di sistem OSS (online single submission) kebanyakan itu sektornya perdagangan, kesehatan itu tidak pernah nomor satu, begitu terjadi COVID-19, kesehatan selalu nomor 1, keduanya BPOM, ketiganya perdagangan," tambahnya.



Simak Video "Jawaban Luhut saat Ditanya 'Apa-apa China'"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)