RI-Turki Jajaki Kerja Sama Pengembangan Pesawat hingga Vaksin Corona

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 01 Agu 2020 12:00 WIB
Kepala staf presiden Moeldoko bersama Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali menjadi pembicara dalam diskusi SDM Unggul, Indonesia Maju di Jakarta, Rabu (14/8/2019). Dalam diskusi inj membahas mengenai tantangan Indonesia menyiapkan SDM-nya dalam menghadapi industri 4.0.
Menristek Bambang Brodjonegoro/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Indonesia dan Turki telah melakukan penjajakan untuk kerja sama potensial dan memperkuat bilateral kedua negara untuk bidang riset dan inovasi. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan ada tiga usulan di bidang riset dan inovasi yang potensial.

Misalnya rencana kolaborasi riset dan pengembangan vaksin COVID-19 baik skema mandiri berdasarkan litbangjirap dan skema uji klinis dari vaksin COVID-19.

"Kerja sama pengembangan industri kedirgantaraan antara lain kerja sama pesawat N-219 dan R-80 dan kerja sama di bidang ruang angkasa untuk pengembangan teknologi satelit dan pengembangan airport untuk peluncuran satelit," kata Bambang dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8/2020).

Hubungan kerja sama Indonesia dan Turki dalam bidang kedirgantaraan sudah terjalin sejak lama. Diketahui melalui Duta Besar Indonesia untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal, Turki telah melakukan pendekatan secara politis kepada Indonesia untuk melakukan kerja sama pengembangan civilian aircraft project atas pesawat tipe N-219, N-245, dan R-80.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Elfien Goentoro, menjelaskan bahwa saat ini PT DI telah memiliki MoU dalam bidang manufaktur dan produksi bagian pesawat tipe N-219 dan N-245 dengan Turki, yang mana saat ini pengembangan pesawat N-219 sudah siap untuk tahap komersialisasi.

Sementara itu untuk proyek pesawat R-80, Direktur Utama PT Regio Aviasai Indonesia (RAI), Agung Nugroho, mengenang masa-masa pertama kali PT RAI didirikan pada tahun 2012, Turki adalah negara pertama yang dikunjungi Pendiri PT RAI saat itu (alm.) Prof. BJ Habibie, Menristek RI dan Presiden RI ke-3 saat itu, untuk melakukan penjajakan kerja sama teknologi mesin pesawat. Lebih lanjut Agung mengatakan bahwa pesawat R-80 saat ini sudah mampu memenuhi kapasitas penumpang 90-100 orang.

Berbeda halnya dengan Indonesia, industri kedirgantaraan Turki memang memprioritaskan pengembangan dan produksi pesawat tempur untuk kebutuhan militer negaranya, mengingat Turki termasuk negara maju di kawasan untuk bidang pengembangan teknologi pesawat tempur.

Presiden Turkish Aerospace Industry (TAI) mengatakan bahwa dirinya melihat adanya potensi besar untuk dapat mengkolaborasikan kepentingan Turki dan Indonesia, sehingga Turki ke depannya dapat mengembangkan program passenger aircraft military program. Akan tetapi, Menteri Turki tetap akan melihat kemungkinan kerja sama untuk pengembangan pesawat penumpang dengan Indonesia.

Selanjutnya, diterangkan oleh PTDI bahwa Indonesia akan mencoba memasuki pasar komersil terhadap pesawat N-219 yang lebih besar untuk penggunaannya di wilayah Eropa, melalui langkah awal sertifikasi pesawat RI-68, RI-80 dan R-90 di Turki.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Vaksin Merah Putih Ditargetkan Uji Klinis Awal Tahun Depan"
[Gambas:Video 20detik]