Kalau Ekonomi RI Sudah Minus, Pemerintah Harus Ngapain Lagi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 04 Agu 2020 22:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi minus atau kontraksi. Ini akibat tekanan pandemi COVID-19 yang masih terjadi dan belum ada tanda akan selesai.

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengungkapkan jika memang terjadi kontraksi ekonomi pemerintah harus melakukan strategi baru untuk menekan dampak ini.

Dia menyebut saat ini program bantuan sosial (bansos) yang diberikan pemerintah sudah cukup baik, hanya saja kurang tepat sasaran. "Banyak bansos yang tidak tepat sasaran, ada kelompok menengah atas yang dapat bansos. Kalau mereka yang dapat kan tidak jadi barang konsumsi yang efektif, mereka akan disimpan. Kalau yang dapat kalangan bawah itu bisa menciptakan atau menggerakan roda perekonomian," ujar dia saat dihubungi detikcom, Selasa (4/8/2020).

Tauhid mengatakan, kemudian bantuan berupa uang tunai senilai Rp 600.000 untuk 2,3-2,4 juta masyarakat berpenghasilan rendah masih terbilang kecil dan tidak bisa mendorong konsumsi.

Dia juga menyoroti bansos dalam bentuk sembako ini tidak dapat mendorong perekonomian, karena masyarakat tetap tidak bisa berbelanja di warung atau UMKM di sekitar rumahnya.

"Kalau bansos uang tunai mereka bisa beli kebutuhan lain, jadi ada perputaran uang," jelasnya.

Menurut dia, stimulus lain dibutuhkan namun sebagai cadangan. Misalnya restrukturisasi kredit, penjaminan kredit UMKM itu akan tumbuh ketika barang dan jasa mengalami permintaan yang tinggi.

Namun jika tidak ada permintaan maka tidak akan ada pergerakan. "Kalau likuiditas dikasih terus, begini bank itu kan follow the money, kalau permintaanya tidak ada walaupun uangnya ada ya tidak bisa berikan pinjaman," ujar dia.

Menurut Tauhid saat ini memang kondisi perekonomian sangat sulit di tengah pandemi yang masih tidak menentu. Masyarakat dan dunia usaha melakukan rem agar tetap berhati-hati.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 minus 4%. Hal ini karena menurunnya aktivitas masyarakat di masa pandemi COVID-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan dari hasil asesmen bank sentral atas indikator terkini memang menunjukkan penurunan kegiatan ekonomi di Indonesia.

"Khususnya terjadi pada April dan Mei 2020 dan ini menunjukkan kontraksi dalam pada kuartal II-2020. Perkiraan-perkiraan kami dengan berbagai data yang ada, memang menunjukkan kontraksi ekonomi di kisaran 4%," kata dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kontraksi ekonomi hingga -5,08 di kuartal II-2020. Proyeksi ini lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan -4,3%.

"Proyeksi untuk kuartal kedua dari berbagai institusi adalah berbeda-beda. Kalau kita lihat, kami sendiri memproyeksikan antara -5,08 sampai dengan (minus) 3,54. Dengan poinnya di -4,3%" kata Sri Mulyani.



Simak Video "Erick Thohir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pulih 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)