Menanti Ekonomi RI di Kuartal II

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2020 07:36 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II. Banyak kalangan yang memprediksi ekonomi tanah air akan berada pada zona negatif akibat dihantam Corona.

Kementerian Keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi di level -4,3% pada kuartal II. Angka prediksi itu merupakan titik tengah dari rentang -3% sampai -5,1%.

Beberapa ekonom memandang, ekonomi nasional akan terkontraksi lebih dalam dari yang diproyeksikan Kementerian Keuangan. Vice President Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede memprediksi ekonomi nasional ada di level -4,72% pada kuartal II.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun 2020 diperkirakan terkontraksi di kisaran -4,72% YoY dari kuartal sebelumnya tercatat 2,97% YoY," kata Josua saat dihubungi detikcom, Selasa (4/8/2020).

Josua menjelaskan, angka prediksi itu ada dikarenakan tiga kontributor terbesar ekonomi nasional yaitu tingkat konsumsi rumah tangga, investasi atau PMTB, dan ekspor mengalami penurunan akibat Corona.

Dia memprediksi, pertumbuhan tingkat konsumsi rumah tangga berada di kisaran -4,79% atau menurun dalam dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,84%. Investasi atau PMTB diperkirakan -5,34% di kuartal II tahun ini, hal ini dikarenakan banyak kegiatan investasi yang tertunda akibat Corona.

Sedangkan ekspor, Josua mengatakan akan ada peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

"Surplus neraca perdagangan pada kuartal II-2020 dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya mengindikasikan bahwa net ekspor pada komponen PDB cenderung meningkat," katanya.

Sementara Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual memprediksi ekonomi nasional pada kuartal II-2020 berada di kisaran -5%. Hal ini dikarenakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada Mei 2020.

Menurut dia, penerapan PSBB di berbagai daerah di Indonesia telah menahan aktivitas perekonomian, salah satunya menahan konsumsi rumah tangga.

"Proyeksi kita kisarannya sekitar -5% penurunannya. Jadi kalau dilihat kan yang parah penurunan ada di Mei ketika PSBB terjadi di berbagai daerah nah itu transaksi nasional drop seperempat," ungkap David.



Simak Video "Erick Thohir Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Pulih 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/zlf)