Ancaman Resesi Kian Nyata, Masyarakat Mesti Ngapain Nih?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 08 Agu 2020 12:15 WIB
Poster
Ilustrasi kondisi ekonomi di tengah merebaknya Corona/Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Ancaman resesi kian nyata setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 minus 5,32%. Para ekonom pun menilai resesi tak terelakkan, yang artinya kontraksi ekonomi di kuartal III bakal jadi kenyataan.

Untuk menghadapi ancaman itu, masyarakat disarankan menyiapkan uang tunai atau dana likuid sebagai upaya mempersiapkan diri.

Menurut ekonom INDEF Bhima Yudhistina, dana darurat yang berbentuk tunai atau mudah diakses memang dibutuhkan untuk menghadapi resesi ekonomi.

"Dana darurat sangat penting setidaknya mencapai 30% dari penghasilan bulanan saat terjadinya resesi," kata Bhima kepada detikcom, Sabtu (8/8/2020).

Dihubungi secara terpisah, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Andy Nugroho juga menyarankan masyarakat untuk menyiapkan dana likuid ketika ancaman resesi menjadi nyata. Apalagi, ketika gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) juga mengiringi ancaman resesi itu.

"Bagi teman-teman yang kemungkinan terdampak secara finansial, misalnya kena lay off, mungkin mereka punya investasi di pasar saham atau reksadana. Daripada nilainya anjlok lebih baik ditarik sekarang. Karena kalau ada ancaman lay off mereka sudah ada dana darurat," terang Andy kepada detikcom.

Menurut Andy, dana darurat ketika menghadapi resesi yang ideal khususnya bagi masyarakat yang masih lajang atau belum berkeluarga ialah 3 kali dari gaji bulanannya. Sementara, bagi yang berkeluarga 6 kali dari gaji bulanannya.

"Tapi itu angka ideal, kan angka yang besar juga untuk mengumpulkan sedemikian besar. Kalau mereka nggak punya uang tunai, misalnya logam mulia, itu bisa dianggap sebagai cadangan dana darurat, atau investasi lain yang gampang dicairkan seperti deposito," papar dia.



Simak Video "Kadin Proyeksikan Ada Tambahan 5 Juta Pengangguran di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)