Ngerinya Krisis Ekonomi: Dolar AS Meroket, PHK di Mana-mana

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 08 Agu 2020 13:15 WIB
Warga beraktifitas di kawasan pemukiman padat penduduk, Petamburan, Jakarta, Selasa (19/07/2016). Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2016 mencapai 28,01 juta orang dan angka ini sekitar 10,86 persen dari jumlah penduduk nasional. Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna

Tidak berhenti sampai di situ, harga-harga barang juga ikut melesat tak karuan dengan ditandai inflasi yang meroket hingga 82,4%. Saat itu ekonomi Indonesia tidak tumbuh bahkan -13,1%.

Krisis ekonomi juga membuat dolar Amerika Serikat (AS) terus memberikan tekanan terhadap rupiah. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000 dengan titik terendahnya di Rp 1.977/US$ pada 1991.

Dolar AS bertahan di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu.

Sampai terjadi krisis moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Memasuki pertengahan 1997 Indonesia pun meninggalkan sistem kurs terkendali.

Penyebabnya, cadangan devisa Indonesia rontok karena terus-terusan menjaga dolar AS bisa bertahan di Rp 2.000-2.500. Setelah memakai kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.

Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah 'terkapar' lagi.

Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Ketika itu Indonesia mengalami krisis ekonomi.

Halaman


Simak Video "Kerusuhan di Libanon: Toko Dibakar, Gas Air Mata Melayang"
[Gambas:Video 20detik]

(eds/eds)