Ngerinya Krisis Ekonomi: Dolar AS Meroket, PHK di Mana-mana

ADVERTISEMENT

Ngerinya Krisis Ekonomi: Dolar AS Meroket, PHK di Mana-mana

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 08 Agu 2020 13:15 WIB
Warga beraktifitas di kawasan pemukiman padat penduduk, Petamburan, Jakarta, Selasa (19/07/2016). Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2016 mencapai 28,01 juta orang dan angka ini sekitar 10,86 persen dari jumlah penduduk nasional. Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus 5,23%. Angka itu membuat ancaman resesi di Indonesia kian nyata. Sejumlah strategi dilakukan pemerintah agar krisis ekonomi 98 tidak terulang.

Memang bukanlah hal baru jika Indonesia mengalami krisis ekonomi karena sebelumnya pada 1998 sudah pernah terjadi. Namun kejadian kelam itu alangkah baiknya jangan sampai terulang karena membuat situasi dunia sangat mengerikan.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan resesi ekonomi akan menyebabkan lonjakan masyarakat miskin. Akan banyak pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena resesi.

"Yang jelas adalah kemiskinan akan meningkat cukup tajam. Nah ini kan agak berat, kemiskinan ini kan ditandai oleh orang yang pendapatannya turun banyak itu mulai terjadi lebih lama dari biasanya," kata Tauhid kepada detikcom, Kamis (6/8/2020).

Berdasarkan catatan detikcom, ratusan perusahaan mulai dari skala kecil hingga konglomerat bertumbangan pada saat krisis 1998. Sekitar 70% lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal mendadak berstatus insolvent alias bangkrut. Sehingga risiko lanjutannya adalah lahirnya gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20% lebih dari angkatan kerja. Akibat itu, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat.

Angka kemiskinan tercatat mencapai sekitar 50% dari total penduduk. Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dolar/kapita pada 1996 dan 1.088 dolar/kapita pada 1997 menciut menjadi 610 dollar/kapita pada 1998. Dua dari tiga penduduk Indonesia, sebagaimana dicatat oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO), berada dalam kondisi yang sangat miskin.

Tidak berhenti sampai di situ, harga-harga barang juga ikut melesat tak karuan dengan ditandai inflasi yang meroket hingga 82,4%. Saat itu ekonomi Indonesia tidak tumbuh bahkan -13,1%.

Krisis ekonomi juga membuat dolar Amerika Serikat (AS) terus memberikan tekanan terhadap rupiah. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000 dengan titik terendahnya di Rp 1.977/US$ pada 1991.

Dolar AS bertahan di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu.

Sampai terjadi krisis moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Memasuki pertengahan 1997 Indonesia pun meninggalkan sistem kurs terkendali.

Penyebabnya, cadangan devisa Indonesia rontok karena terus-terusan menjaga dolar AS bisa bertahan di Rp 2.000-2.500. Setelah memakai kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.

Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah 'terkapar' lagi.

Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Ketika itu Indonesia mengalami krisis ekonomi.



Simak Video "Jadi Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak Ingin Prioritaskan Perbaikan Ekonomi"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT