Gotong Royong Dinilai Jadi Solusi Lepas dari Ancaman Resesi

Yudistira Imandiar - detikFinance
Sabtu, 08 Agu 2020 19:18 WIB
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Ancaman resesi ekonomi akibat krisis di tengah pandemi COVID-19 mengintai negara-negara di dunia. Sembilan negara, mencakup Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Filipina telah mengumumkan terjerembab ke jurang resesi.

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengungkapkan, risiko resesi dapat terjadi di negara-negara lain, termasuk Indonesia. Di kuartal II 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi minus 5,32%.

Jazilul menegaskan, kondisi tersebut mengkhawatirkan bagi masa depan masyarakat. Bila tidak segera diatasi dan ditangani maka akan terjadi pertambahan jumlah pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan sosial.

Oleh sebab itu, ia meminta semua pihak ikut berkontribusi mengangkat perekonomian negara agar dapat mengelak dari jurang resesi. Ia berpendapat, kemerosotan pertumbuhan ekonomi dapat diatasi salah satunya dengan menegakkan budaya gotong royong dengan saling membantu antar masyarakat.

Budaya gotong royong, sebut pria asal Gresik, Jawa Timur ini, mampu mendayagunakan kehidupan masyarakat. Dari budaya tersebut maka persatuan dan kesatuan terjalin.

"Dengan gotong royong, saling membantu, saling memberi, untuk meringankan beban kehidupan maka ancaman resesi itu bisa dikendalikan dan diringankan," kata Jazilul dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2020).

Di samping itu, imbuh Jazilul, kekayaan alam Indonesia, dapat digunakan untuk menyangga kehidupan keseharian masyarakat. Ia memandang, keberagaman suku dan budaya Indonesia menyimpan potensi yang dapat diberdayakan. Keindahan alam serta kekayaan flora dan fauna, membuat berbagai wilayah di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri dan berdaya guna bagi masyarakat di sana.

Ia bercerita, beberapa hari lalu ia berkunjung ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau itu, kata Jazilul, memiliki kekayaan budaya yang mampu menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri untuk datang, dan memberikan pendapatan bagi masyarakat.

"Sehingga apa yang ada bisa menjadikan sumber geliat ekonomi masyarakat," pungkasnya.

(prf/hns)