Tahukah Kamu, Inflasi Indonesia Pernah 653,3%!

ADVERTISEMENT

Tahukah Kamu, Inflasi Indonesia Pernah 653,3%!

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 16 Agu 2020 13:51 WIB
Badan Pusat Statistik mencatat angka inflasi selama November 2019 sebesar 0,14%. Kenaikan harga bawang ikut memicu inflasi sepanjang bulan ini.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Angka inflasi Indonesia pada Agustus 2020 tercatat rendah akibat pandemi COVID-19. Bank Indonesia (BI) menyebut jika inflasi pada pekan pertama Agustus hanya sebesar 0,01%.

Tapi tahukah kamu, Indonesia pernah mencatat inflasi hingga 653,3% loh! Tahun berapa ya? Berikut berita selengkapnya:

Setelah kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, menjalankan roda perekonomian bukanlah hal yang mudah untuk pemerintah. Proses membuat stabil ekonomi masih panjang dan berliku.

Mengutip laporan Unit Khusus Museum Bank Indonesia berjudul Sejarah Bank Indonesia seri Moneter disebutkan pada 1959 contohnya, Indonesia masih menghadapi masalah yang berat karena kebijakan pemerintah yang masih mengutamakan politik.

Deputi Gubernur Senior BI periode 2013-2019 Mirza Adityaswara menjelaskan inflasi pada periode 1960-an mencapai ratusan persen dan setelah tahun 1966 (pada periode orde baru) sudah mulai terkendali.

"Di zaman orde lama atau sebelum 1966, pengelolaan ekonomi makro tidak dikendalikan, produksi barang kurang dan pencetakan uang tidak dikontrol sehingga menimbulkan inflasi dan ketidakpercayaan kepada rupiah," kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (16/8/2020).

Berdasarkan Laporan Tahunan Pembukuan Bank Negara Indonesia Unit I 1960 -1965, laju inflasi pada 1959 masih berada di kisaran 22,2%.

Pemerintah pada 1959 melakukan kebijakan pengetatan moneter untuk mengatasi tekanan inflasi Contohnya dengan mengeluarkan ketentuan pagu kredit bagi tiap bank secara individual pada 8 April 1959.

Kemudian pada 25 Agustus 1959 pemerintah juga melakukan sanering atau pengguntingan uang pecahan Rp 500 dan Rp 1000 masing masing menjadi Rp 50 dan Rp 100.

Kebijakan pembekuan simpanan giro dan deposito sebesar 90% di atas Rp 25.000 juga dikeluarkan dan diganti menjadi simpanan jangka panjang. Devaluasi nilai tukar rupiah juga dilakukan dari sebelumnya Rp 11,4 per dolar AS menjadi Rp 45 per dolar AS.

"Kebijakan moneter yang diambil pemerintah ini ternyata tidak melibatkan Gubernur Bank Indonesia (BI). Merasa dilangkahi, Mr. Loekman Hakim -Gubernur BI saat itu- mengajukan permohonan pengunduran diri pada Presiden Soekarno. Kejadian ini membuktikan bahwa pada waktu itu ada upaya dan tekanan-tekanan kuat untuk membatasi kewenangan BI sebagai bank sirkulasi dan penjaga stabilitas moneter," tulis laporan tersebut, dikutip Minggu (16/8/2020).

Kemudian puncaknya angka inflasi terjadi pada 1966 saat itu laju inflasi 653,3%. Pertambahan jumlah uang beredar tersebut terjadi karena tindakan pemerintah di sektor keuangan pada Agustus 1959 dan diikuti oleh kenaikan harga barang baik di pedalaman maupun di kota besar.

Selain itu penerbitan uang rupiah baru pada 13 Desember 1965 juga turut mengerek angka inflasi mencapai level tertinggi. Sedangkan dari sektor swasta, meningkatnya pemberian kredit ini disebabkan oleh makin meningkatnya inflasi dalam negeri yang tercermin pada meningkatnya harga barang dan jasa.

Periode 1960-1966, terjadi kenaikan angka indeks harga bahan makanan, baik dari 12 bahan makanan di pedalaman Pulau Jawa maupun indeks dari 19 bahan makanan di beberapa kota besar.

Kondisi ekonomi tersebut membuat inflasi sangat tinggi. Pemerintah melancarkan berbagai operasi di bidang keuangan. Hal ini karena inflasi yang tinggi akan membuat pengaruh negatif untuk kondisi ekonomi negara. aInflasi adalah saat harga pada umumnya meningkat.



Simak Video "Mendagri Peringatkan 52 Kab/Kota Belum Berupaya Kendalikan Inflasi"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT