Ada Pekerja Positif Corona, Pabrik General Motors Tetap Operasi

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 26 Agu 2020 12:46 WIB
Toyota dan General Motors memproduksi alat-alat medis untuk memenuhi kebutuhan warga Amerika di tengah wabah Corona. Mereka mengoperasikan pabrik yang sempat tutup.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat General Motors dikabarkan tetap mempekerjakan karyawan non-serikat pekerja untuk mengisi posisi karyawan yang terkonfirmasi terinfeksi virus Corona. Karyawan terpapar virus Corona berada di pabrik GM di negara bagian Missouri.

GM menjelaskan pihaknya mempekerjakan karyawan non-serikat pekerja untuk mengisi posisi yang kosong agar pabrik di Missouri tetap beroperasi. Karyawan yang mengisi posisi itu adalah pekerja kontrak sehingga perusahaan dengan leluasa memindahkannya.

Menanggapi kabar tersebut, serikat pekerja otomotif atau United Auto Workers (UAW) keberatan dengan apa yang dilakukan GM. Menurut mereka hal itu melanggar kontraknya dengan UAW.

"Kami sangat keberatan dengan pelanggaran kontrak ini. Itu jelas melanggar kontrak. Saya berharap ini segera diselesaikan," kata juru bicara UAW Brian Rothenberg dikutip dari CNBC, Rabu (26/8/2020).

UAW menjelaskan dalam kontrak perusahaan otomotif dilarang mempekerjakan non-serikat pekerja kecuali di situasi mendesak, seperti: 1) dalam keadaan darurat ang timbul dari keadaan tak terduga yang membutuhkan waktu segara untuk menindak gangguan operasi pabrik. 2) dalam instruksi atau pelatihan karyawan, termasuk mendemonstrasikan metode yang tepat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Menanggapi keterangan UAW. GM mengatakan bahwa tindakan perusahaan jelas karena situasi adanya kasus virus Corona di pabriknya adalah situasi tak terduga. GM juga menegaskan karyawan yang tetap bekerja tidak perlu khawatir karena perusahaan terus mendesak karyawan menerapkan protokol kesehatan. Termasuk menjaga jarak dan menggunakan masker.

Tak hanya GM, Honda Motor bulan lalu mengkonfirmasi bahwa mereka mempekerjakan non-serikat pekerja. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan produksi yang tengah mengalami pemintaan yang tinggi. Namun, saat dikonfirmasi juru bicara Honda tak segera menanggapi.

(fdl/fdl)