Demi Survive dari Corona, Maskapai Harus Pangkas Biaya Hingga 50%

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2020 09:38 WIB
American Airlines berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 25 ribu karyawannya. Kebijakan ini dilakukan akibat anjloknya permintaan perjalanan karena Corona.
Foto: AP Photo, getty images
Jakarta -

Pandemi virus Corona terus menyulitkan industri penerbangan Amerika Serikat. Sejumlah maskapai terpaksa melakukan segala upaya untuk memulihkan bisnisnya. Ketua Eksekutif United Airlines Oscar Munoz mengatakan industri penerbangan AS perlu mengurangi biaya gaji tenaga kerja hingga 50% jika ingin bertahan.

"Beberapa maskapai penerbangan tidak berhasil melewati krisis. Realitanya apa yang kami hadapi sangat mengerikan," ujar Munoz, dikutip dari CNN, Rabu (2/9/2020).

Munoz menjelaskan jika biaya gaji tenaga kerja dipangkas 30% hingga 50% artinya, akan ada puluhan ribu pekerja yang harus dipangkas.

Selain biaya gaji, ada biaya lain juga yang dikurangi. United, Delta Airlines, dan American Airlines kompak berencana akan menghapus secara permanen biaya perubahan kabin ekonomi dan premium pada penerbangan domestik. Ribuan pekerja pun ada yang secara sukarela melakukan pensiun dini.

Namun, pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terus menghantui. American Airlines berencana melakukan PHK ke 19 ribu pekerjanya pada 1 Oktober mendatang. Juli lalu United mengumumkan ada 36 ribu karyawan akan dipangkas. PHK dapat dihentikan jika stimulus maskapai dari pemerintah AS UU CARES bisa diperpanjang.

Undang-undang CARES, yang memberikan bailout US$ 50 miliar setara Rp 737 triliun (kurs Rp 14.700) dirancang untuk menjaga maskapai penerbangan AS tetap bertahan, mengharuskan maskapai penerbangan untuk menghindari PHK paksa hingga 1 Oktober.

Munoz menjelaskan bahwa penurunan biaya sebesar 50% pada penggajian bisa dilakukan tanpa mem-PHK pekerjanya. Altenatif lain yang bisa maskapai lakukan dengan pengurangan jam kerja dan gaji pegawainya.

Makin rendahnya permintaan pada maskapai penerbangan. Bisnis penerbangan diprediksi sulit kembali ke kondisi sebelum pandemi. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan pada akhir Juli bahwa perjalanan udara global tidak akan pulih dari pandemi hingga 2024, setahun lebih lambat dari proyeksi badan sebelumnya.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi maskapai penerbangan tidak ada lagi perjalanan bisnis. Konferensi perusahaan ke luar wilayah telah dibatalkan. Bankir investasi melakukan transaksi secara virtual. Perusahaan tidak lagi memberi penghargaan kepada artis dengan memberikan liburan atau perjalanan.

Munoz mengungkap perjalanan bisnis mungkin akan pulih jika vaksin Corona telah ditemukan. Vaksin Corona memungkinkan jaminan kesehatan seseorang untuk melakukan perjalanan udara.

"Vaksin mungkin akan menjadi bagian paling menentukan dari awal akhir ini. Keyakinan dalam aspek kesehatan akan membawa kembali konferensi, membawa kembali perjalanan korporat dan perjalanan bisnis lainnya," jelas Munoz.



Simak Video "Sederet Maskapai Dunia yang Bangkrut Gara-gara Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)