Penjualan Layang-layang Meroket di Masa Pandemi

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 04 Sep 2020 10:41 WIB
Festival layang-layang di Jepara
Foto: Dian Utoro Aji/detikTravel
Jakarta -

Pandemi virus Corona memaksa India melakukan pembatasan wilayah (lockdown) sejak Maret lalu. Selama lockdown orang India mengisi waktu dengan menerbangkan layang-layang dari teras dan atap mereka.

Kini penjual layang-layang di India mendapatkan lonjakan permintaan dan keuntungan.

Dikutip dari BBC, Jumat (4/9/2020) seperti yang dialami penjual layang-layang asal Delhi, India Mohammad Ahmed. Selama kurang lebih 6 bulan penjualannya melonjak. Bagi Ahmed selama 11 tahun dia menjadi penjual layang-layang, kali ini menjadi penjualan terbanyak.

Ahmed mengatakan hampir setiap hari total penjualannya mencapai US$ 2.000 setara Rp 29 juta (kurs Rp 14.700). Total itu hanya untuk penjualan dalam malam hari.

"Tiba-tiba semua orang membutuhkan layang-layang. Saya masih menerima telepon dari seluruh negeri dari Maharashtra, Tamil Nadu, Rajasthan. Sangking banyaknya, sehingga saya tidak dapat memenuhi semuanya," kata Ahmed.

Selain itu, penjual layang-layang di Mumbai, India bernama Ahsan Khan mengatakan selama periode penjualan dari April hingga Agustus dirinya telah menjual 500 ribu layangan. Biasanya di periode yang sama penjualan lebih sedikit.

Khan mengatakan bahwa dirinya bahkan mendapatkan pesanan dari negara tetangga Pakistan. Dia mengungkap pembeli dari Pakistan menawarkan bayaran dua kali lipat dari harga biasanya.

"Saya bahkan mendapat telepon dari Karachi dan Lahore di Pakistan, dari orang-orang yang menawarkan untuk membayar saya dua kali lipat dari jumlah biasanya," ujar Khan.

Layang-layang telah menjadi hiburan yang populer di India selama berabad-abad. Sejarawan mengatakan bahwa layang-layang diperkenalkan ke negara tersebut oleh para pelancong Tiongkok.

Biasanya menerbangkan layang-layang sebagai aktivitas musiman di India. Biasanya puncak penjualan saat festival Makar Sankranti atau perayaan panen. Festival itu dirayakan pada 14 Januari untuk menandai awal musim semi dan musim panen. Tradisi menerbangkan layang-layang telah lama dikaitkan dengan festival ini.

Tahun ini, lockdown telah membuat industri layang-layang sangat sibuk selama beberapa bulan. Bahkan setelah lockdown mulai dilonggarkan secara bertahap dari Juni hingga akhir Agustus, anak-anak tetap membeli layangan karena sekolah tetap tutup.

"Anda tidak bisa keluar, Anda tidak bisa membawa anak-anak Anda ke taman, jadi orang-orang terpaksa menerbangkan layang-layang untuk menghabiskan waktu mereka," kata salah satu penjual layangan di Mumbai, Shahida Rehman.

Namun, satu atau dua kota besar dan kota kecil di India, melarang menerbangkan layangan. Karena khawatir semua orang keluar dari teras dan dapat saling menularkan virus Corona. Tetapi, dominan kota di India mengizinkan permainan layangan.

Hiba, salah satu pabrik layangan bisa membuat hingga 50 layang-layang per hari. Kenaikan besar dalam permintaan selama lockdown telah meningkatkan pendapatan mereka, karena penjualan dan harga layang-layang meningkat. Harga layang-layang kertas dan kayu sederhana berlipat ganda dari 10 rupee setara Rp 2.000 (kurs Rp 201) menjadi 20 rupee (Rp 4.000).

Mohammad Ashraf, seorang penjual layang-layang di Bareilly, Inda mengatakan bahwa meskipun tidak dapat membuka tokonya pada tahap awal lockdown. Kini penjualannya mencapai 200 ribu rupee (Rp 40 juta) per Agustus kemarin.

Khan mengatakan penjualan telah dipimpin oleh kota-kota kecil di India, karena di situlah lebih banyak orang memiliki teras atau atap. Berbeda dengan kota-kota besar, seperti Mumbai, kebanyakan orang tinggal di flat dan harus berbagi area outdoor.



Simak Video "Wow! Layang-layang Naga Ini Bisa Terbangkan Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)