Waspada! Ekonomi RI Bisa Minus 3 Kuartal Berturut-turut

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 06:50 WIB
Pandemi virus Corona membuat dunia usaha babak belur.  COVID-19 juga diproyeksi mendatangkan malapetaka pada ekonomi Indonesia, bahkan dunia.
Ilustrasi/Foto: Antara Foto
Jakarta -

Institute for Development od Economics and Finance (Indef) menilai penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi kunci realisasi perekonomian nasional di tahun 2020. Banyak lembaga internasional yang memproyeksikan ekonomi Indonesia minus sepanjang tahun.

Pandemi Corona juga sudah membuat banyak negara baik maju maupun berkembang yang ekonominya resesi. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi minus dua kuartal berturut-turut. Ekonomi Tanah Air sendiri diprediksi bisa mengalami resesi tiga kuartal berturut-turut atau minus selama tiga kuartal.

Direktur Riset Indef Berly Martawardaya mengatakan ekonomi Indonesia berpotensi resesi berkepanjangan jika penyebaran kasus virus Corona tidak bisa ditangani dengan cepat. Dia menilai Indonesia berpotensi mengalami resesi selama tiga kuartal berturut-turut.

"Kalau pandeminya lanjut sampai akhir tahun bahkan tahun depan, maka penderita COVID terus bertambah secara signifikan sehingga resesinya bisa lebih dari tiga kuartal," kata Berly dalam acara diskusi online Indef, Kamis (17/9/2020).

Pemerintah terus berupaya menekan angka penyebaran virus Corona dengan berbagai kebijakan. Salah satu yang dilakukan menerapkan PSBB seperti di DKI Jakarta, serta pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) di Bogor, Bekasi, dan Depok.

Dia bilang, penerapan pembatasan sosial tidak hanya berdampak pada ekonomi DKI Jakarta melainkan juga nasional. Dia menilai penerapan PSBB jilid II di DKI Jakarta juga bisa menjadi titik keberhasilan pemulihan ekonomi nasional.

Pandemi Corona yang berkepanjangan akan menciptakan pola pemulihan ekonomi 'U shape' bahkan 'L shape'. Kedua pola ini menandakan ekonomi butuh waktu atau sama sekali tidak pulih seperti sebelum terjadi pandemi.

"Itu best scenario, pandeminya reda dan ekonominya pulih. Artinya penambahan COVID-nya melambat dan resesinya cuma dua atau tiga kuartal. Jadi itu masih U shape pendek ya, berarti nggak sampai setahun," katanya.

Meski begitu, Berly meminta masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan jika Indonesia resesi. Pasalnya resesi hanya masalah angka atau statistik. Dia mengatakan yang paling penting saat ini adalah pemerintah harus menjamin kebutuhan masyarakat di tengah pandemi khususnya kelompok 40% termiskin.

"Kalau resesi kenapa? itu hanya angka, yang penting orang hidup dulu, yang penting 20-40% masyarakat dilindungi. Ini memang tidak bisa tambah makmur, jadi justru kita tidak takut resesi," katanya.

"Jadi prioritasnya melindungi dulu. Jadi harus memilih ya melindungi, ya tidak apa-apa kalau negatif, yang penting yang mati sedikit dan penularan sedikit," tambahnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2