4 Fakta Utang Miliaran Dolar AS Maladewa ke China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 17:30 WIB
Maladewa
Foto: Maladewa (Thinkstock)
Jakarta -

Maladewa atau Maldives kini memiliki utang miliaran dolar AS kepada China. Utang digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan infrastruktur lainnya.

Memang, sebelumnya Presiden Maladewa sangat dekat dengan China dan berencana meminjam dana lagi dalam jumlah besar untuk keperluan pembangunan di negara kepulauan ini.

Namun utang ini dikhawatirkan menjadi jebakan untuk Maldives. Anggota parlemen mengkhawatirkan jika utang ini menjadi jalan Maldives seperti Sri Lanka.

Berikut fakta-faktanya :

1. Bangun Jembatan

Maladewa sudah membangun, jembatan sepanjang 2,1 kilometer (km) senilai US$ 200 juta pada 2018 dengan uang pinjaman dari China. Jembatan ini memudahkan warga Maldives untuk beraktivitas. Ini merupakan jembatan pertama yang dibangun di kepulauan Maladewa. Hal ini menyebabkan boomingnya properti di pulau Hulhumale.

2. China Hubungkan Negara Asia

Sejak 2013 lalu, Presiden China Xi Jinping memulai Belt and Road Initiative untuk menghubungkan seluruh Asia dengan rel kereta, kapal laut hingga jalan darat. Namun sayang Yameen mendapatkan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Pada 2018 setelah jembatan diresmikan Yameen kalah dari Ibrahim Solih dalam pemilihan presiden di Maladewa.

Pemerintahan baru ini mulai memeriksa keuangan negara. Ketua parlemen Nasheed menyebutkan tagihan utang Maladewa ke China mencapai US$ 3,1 miliar. Angka ini termasuk utang pemerintah, utang yang diberikan ke perusahaan negara, hingga swasta.

3. Ditakutkan Tak Bisa Bayar Utang

Ketua parlemen Nasheed menyebutkan tagihan utang Maladewa ke China mencapai US$ 3,1 miliar. Angka ini termasuk utang pemerintah, utang yang diberikan ke perusahaan negara, hingga swasta.

Dia mengaku khawatir jika Maladewa akan masuk ke jebakan utang China. "Dapatkah aset negara ini untuk membayar utang? Rencana proyek yang dibangun sebelumnya seperti tidak ada kemampuan untuk membayarkan utangnya lagi," jelas dia.

4. Khawatir Seperti Sri Lanka

Produk domestik bruto (PDB) Maladewa saat ini tercatat US$ 4,9 miliar. Nasheed menyebut utang Maladewa ke China hampir separuhnya, diproyeksi Maladewa akan kesulitan membayar utang pada 2022-2023.

Nasheed khawatir Maladewa akan sama dengan Sri Lanka yang 70% saham pelabuhan diakuisisi oleh China sebagai kompensasi pembayaran utang. Selain itu, Sri Lanka juga menyetujui memberi 15.000 hektar lahan di sekitar pelabuhan untuk China membangun zona ekonomi. Bagi China, pelabuhan adalah aset strategis yang sangat berharga untuk jalur pelayaran tersibuk di Samudera Hindia.

(kil/ara)