Defisit Transaksi Berjalan AS Melonjak 52,9% di Kuartal II-2020

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 22:15 WIB
Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp 13.000,- menjadi alarm buat investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun masuk dalam tren melemah yang cukup parah dalam beberapa hari terakhir. Seorang nasabah tengah menukar mata uang dolar di Bank CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (16/06/2015). Rengga Sancaya/detikcom.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Amerika Serikat (AS) melonjak hingga 52,9% pada kuartal II-2020. Angka ini merupakan CAD terbesar sejak 12 tahun terakhir, atau tepatnya sejak 2008.

Dilansir dari Reuters, (Jumat 18/9/2020), Departemen Perdagangan AS mengumumkan, CAD Negeri Paman Sam meningkat menjadi US$ 170,5 miliar pada kuartal II-2020. Kenaikan CAD ini terjadi akibat terhambatnya ekspor barang dan jasa selama pandemi virus Corona (COVID-19)

Tingginya CAD ini diukur dengan melihat arus barang, jasa, dan juga investasi yang keluar-masuk negara.

Sebagai informasi, pandemi virus Corona tak hanya berimbas pada tingginya defisit transaksi berjalan, tapi juga terhadap perekonomian secara keseluruhan. Pada kuartal I-2020 saja, perekonomian AS sudah terkontraksi sebesar 5%, dan semakin dalam yakni minus 32,9% di kuartal II-2020, seperti yang dirilis Departemen Perdagangan AS pada 30 Juli lalu.

Kontraksi tajam terjadi dalam konsumsi, ekspor, hingga investasi dan pengeluaran pemerintah. Meski begitu di basis tahunan (YoY), ekonomi AS di kuartal II -9,5%. Di kuartal I, ekonomi AS masih positif 0,3%.



Simak Video "AS 'Nyerah' Kendalikan Corona, WHO: Itu Bahaya!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)