Tak Cuma 'Ngemper', Ini Jurus Restoran Buat Bertahan Hidup

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 21 Sep 2020 20:30 WIB
Gaya Restoran Dagang di Pinggir Jalan
Foto: Gaya Restoran Dagang di Pinggir Jalan (Achmad Dwi Afriyadi/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah restoran memutar otak agar bisa bertahan dari dampak pandemi Corona dan penerapan sosial berskala besar (PSBB). Salah satunya ialah menerjunkan karyawannya untuk jualan di pinggir jalan atau 'ngemper'.

Namun, jurus itu bukan satu-satunya untuk bertahan hidup. Seperti halnya yang ditempuh Holycow! Steakhouse by Chef Afit.

Pemilik Holycow! Steakhouse by Chef Afit, Afit Dwi Putranto mengatakan, saat ini pihaknya telah mengeluarkan produk ready to cook yakni daging yang telah dibumbui dan siap untuk di masak.

"Kita sudah melakukan itu dari bulan April kemarin," katanya kepada detikcom lewat pesan singkat seperti ditulis Senin (21/9/2020).

Jalan lain yang ditempuh ialah menyediakan layanan pesan dari parkiran. Lewat layanan ini, konsumen bisa memesan dari mobil dan kemudian dihampiri oleh kru yang bertugas. Dengan layanan ini, konsumen bisa makan di mobil ataupun membawa makanan pulang.

"Ada makan di mobil juga," katanya.

Untuk diketahui, salah satu yang menempuh untuk menerjukan karyawannya atau ngemper ialah Pizza Hut. Pengelola Pizza Hut menjelaskan secara prinsip pihaknya mendukung kebijakan pemerintah untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Secara prinsip kami mendukung dan mematuhi peraturan dan kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah pandemi COVID-19 selama beberapa bulan terakhir," kata Corporate Secretary PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), Kurniadi Sulistyomo.

Sepanjang pengetahuannya, sejumlah restoran baik skala kecil maupun besar menerapkan langkah yang sama. Hal itu merupakan bagian dari pemasaran dan penjualan produk.

"Tanpa perlu menyebut merek lain ya, tapi kebijakan ini cukup positif dalam mendekatkan diri kepada konsumen," katanya.

Ia juga menuturkan, pihaknya mempertimbangkan faktor beban dan biaya yang dikeluarkan seperti gaji, sewa lokasi, operasional hingga inventaris makanan.

"Karena keseluruhan biaya tersebut tetap dikeluarkan secara rutin per bulan. Meskipun terdapat pembatasan santap di tempat dalam PSBB," tambahnya.

"Mohon agar dicatat bahwa nafkah hidup keluarga besar masing-masing karyawan juga bergantung dari hasil tersebut," terangnya.

(acd/dna)