3 Fakta RI Bakal Resesi di September

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 22 Sep 2020 18:30 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sampai September 2018 sebesar 5,17%.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Banyak negara yang sampai saat ini ekonominya mengalami resesi karena terdampak pandemi Corona. Sudah puluhan negara terjun ke jurang resesi.

Bagaimana dengan Indonesia? Ekonomi Indonesia bisa dikatakan resesi jika Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia minus lagi di kuartal III-2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ekonomi nasional berpotensi resesi di kuartal III-2020. Hal itu menyusul Kementerian Keuangan merevisi angka proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Dari revisi tersebut, ekonomi Indonesia resesi di kuartal III tahun ini. Berikut fakta-faktanya:

1. Pertumbuhan Ekonomi Negatif

Sri Mulyani mengatakan, Kementerian Keuangan melakukan update proyeksi perekonomian Indonesia untuk tahun 2020 secara keseluruhan menjadi minus 1,7% sampai minus 0,6%.

"Forecast terbaru kita pada September untuk 2020 adalah minus 1,7% sampai minus 0,6%. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III," kata Sri Mulyani dalam video conference APBN KiTa, Selasa (22/9/2020).

2. Resesi

Realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2020 minus 5,32%. Resesi akan terjadi jika pertumbuhan ekonomi nasional kembali negatif di kuartal berikutnya. Resesi adalah kondisi di mana ekonomi minus dua kuartal berturut-turut.

"Dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV yang kita upayakan bisa mendekati 0 atau positif," jelasnya.

3. Ekonomi RI di 2021

Sri Mulyani bicara perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun depan. Ekonomi tahun depan diperkirakan bangkit di level 5%.

"Tahun depan, kita gunakan sesuai RUU APBN 2021 yakni 4,5-5,5% dengan forecast titik di 5,0%. Bagi institusi lain, rata-rata berkisar antara 5-6%. OECD tahun depan prediksi 5,3%, ADB sama 5,3%, Bloomberg median view 5,4%, IMF 6,1%, WB 4,8%," katanya.

"Semua forecast ini subject to atau tergantung pada perkembangan COVID dan bagaimana ini pengaruhi aktivitas ekonomi," ungkapnya.

(hek/ara)