Resesi RI Diramal Tak Separah Negara Lain, Apa yang Bikin Beda?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 24 Sep 2020 11:52 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diramal masih terkontraksi akibat dampak pandemi COVID-19. Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro mengungkapkan memang ekonomi Indonesia kuartal I 2020 melambat signifikan ke level 2,97% setelah muncul kasus pertama di Indonesia.

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III diprakirakan masih akan berada pada teritori negatif, namun dengan arah membaik dibandingkan kuartal II 2020," kata Andry dalam diskusi virtual, Kamis (24/9/2020).

Dia mengungkapkan hal ini sejalan dengan dinamika ekonomi global di mana banyak negara-negara dunia yang juga sudah memasuki resesi kecuali Vietnam dan Tiongkok yang masih mencatat pertumbuhan positif.

"Namun demikian, resesi yang dialami oleh Indonesia diperkirakan tidak akan sedalam negara-negara sekawasan seperti India, Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapore, maupun negara-negara maju di Kawasan Eropa dan AS," jelasnya.

Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan full-year ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada pada kisaran -1% sampai dengan -2%.

Ke depan, perkembangan ekonomi sektoral Kuartal III dan IV dibayangi resiko dampak penerapan PSBB di wilayah DKI Jakarta sejak tanggal 14 September dan resiko akibat peningkatan kasus COVID-19.

Secara sektoral, sektor-sektor jasa-jasa seperti, perdagangan, transportasi, hotel, restoran dan jasa-jasa perusahaan akan mengalami pemulihan yang relatif lambat dari perkiraan semula akibat peningkatan kasus positif COVID-19.

Demikian pula sektor industri pengolahan, pemulihannya mengikuti pola umum peningkatan ekonomi nasional karena sangat tergantung perbaikan daya beli dan confidence masyarakat sehingga mulai membelanjakan uangnya.

Sementara itu perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan di tahun 2021, dengan asumsi kurva infeksi COVID-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai adanya prospek penemuan dan produksi vaksin sehingga masalah pandemi ini bisa cepat teratasi.

"Kami memperkirakan ekonomi dapat tumbuh 4,4% di tahun 2021," jelasnya.

(kil/fdl)