Derita Masa Lalu RI, Dijajah Belanda dan Kena Imbas The Great Depression

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 26 Sep 2020 15:30 WIB
Prekonomian Indonesia dipastikan 99% masuk jurang resesi. Itu artinya pertumbuhan ekonomi nasional bakal minus lagi di kuartal III-2020.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

The Great Depression atau Depresi Hebat yang melanda dunia di periode 1930-an turut berimbas ke Indonesia, atau saat itu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda. Kala itu, Tanah Air masih berada di bawah jajahan Kompeni atau Belanda.

Dikutip dari buku Depresi 1930-an dan Dampaknya Terhadap Hindia Belanda karya Soegijanto Padmo seperti yang dilansir detikcom dari situs Jurnal Universitas Gajah, Jumat (25/9/2020), imbas Depresi Hebat pada Tanah Air terutama di sektor perdagangan.

Indonesia yang berperan sebagai negara pengekspor komoditas primer terutama dari pertanian harus menghadapi penurunan harga yang tajam, namun juga harus tetap membayar komoditas impor dengan harga tetap.

Di Indonesia, pemerintah Belanda tetap memerintahkan agar produksi pertanian dan perkebunan ditingkatkan. Alhasil, volume ekspor pertanian melonjak di tahun 1930 jika dibandingkan tahun 1928, meski nilainya merosot tajam.

Selain Indonesia, penurunan tajam harga komoditas juga terasa ke Australia dan Hindia Barat yang juga merupakan penghasil barang primer. Seiringan dengan harga komoditas yang merosot, penanaman modal atau investasi juga terhenti karena para investor memilih wait and see.

Pada tahun 1931, sistem moneter internasional yang mengatur setiap langkah pemulihan dunia usaha dan perdagangan internasional jatuh. Akibatnya, upaya berbagai negara untuk menurunkan tarif ekspor dan impor gagal ketika Amerika Serikat (AS) menolak untuk berpartisipasi.

Dampak kongkrit Depresi Hebat di Jawa dan Hindia Belanda bisa ditarik pada 4 kesimpulan antara lain hancurnya harga dan permintaan komoditas internasional, masalah pengusaha tanaman khususnya karet dan gula, krisis keuangan yang disebabkan oleh berkurangnya penerimaan dan belanja pemerintah, dan terakhir dampak sosial ekonomi yakni lenyapnya kesempatan kerja, pendapatan, dan daya beli masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air.

Penurunan kesempatan kerja di Indonesia terasa di semua sektor formal, terutama di industri perkebunan dan kegiatan perdagangan di kota pada umumnya. Lebih dari 300.000 lapangan pekerjaan di perkebunan musnah. Upah pekerja juga turun hingga 50%. Pendapatan penduduk pribumi di Jawa menurun menjadi kurang dari separuh.

Dampak Depresi Hebat pada perkebunan gula ialah cadangan yang sangat tinggi selama periode 1930-1931, namun harga merosot. Pada akhirnya pemeritah Belanda menyetujui pembatasan produksi yang tertuang dalam perjanjian internasional Chadbourne.

Akhirnya, banyak pabrik gula terpaksa tutup. Pada tahun 1933, hampir separuh pabrik di Indonesia tutup. Memasuki akhir Depresi Hebat di 1939, hanya tersisa 55 pabrik gula yang bertahan dan bisa beroperasi kembali dari total 180 pabrik yang ada di tahun 1930.

(fdl/fdl)