Ngeri... 38 Juta Penduduk Dunia Bakal Jatuh Miskin karena Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 29 Sep 2020 11:52 WIB
Akibat wabah COVID-19, resesi hampir pasti dialami Indonesia. Penurunan aktivitas ekonomi nasional ini akan berdampak pada PHK dan kemiskinan.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pandemi virus Corona tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga mengakibatkan munculnya masyarakat miskin baru. Bank Dunia (World Bank) memprediksi akan ada tambahan sebanyak 38 juta masyarakat di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang jatuh dalam kemiskinan karena pandemi ini.

"Jumlah masyarakat yang hidup dalam kemiskinan di kawasan ini diprediksi mengalami penambahan sebanyak 38 juta orang pada 2020, termasuk 33 juta orang yang seharusnya sudah dapat lepas dari kemiskinan dan 5 juta lainnya terdorong kembali ke dalam kemiskinan," kata Chief Economist East Asia and Pacific dari World Bank Aaditya Mattoo, dalam Laporan Ekonomi Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober, Selasa (29/8/2020).

Pandemi ini dinilai berdampak besar terhadap pendapatan angkatan kerja. Angka penjualan yang dicapai oleh perusahaan di sebagian negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik disebut mengalami penurunan 38-58% pada April maupun Mei 2020, dibanding di bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Meski begitu, perusahaan-perusahaan besar dinilai mampu pulih lebih cepat daripada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), yang lebih rentan terhadap krisis dan tidak semuanya mampu beradaptasi dengan menggunakan platform digital.

Meski pemerintah di masing-masing negara telah mengalokasikan anggaran untuk bantuan, ditemui masih ada beberapa negara yang bantuan pemerintahnya baru menjangkau kurang dari seperempat jumlah rumah tangga yang pendapatannya terpuruk, dan hanya 10-20% perusahaan melaporkan telah menerima bantuan sejak mulai adanya pandemi.

"Pemerintah negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah mengalokasikan rata-rata 5% dari nilai PDB-nya untuk meningkatkan sistem kesehatan, membantu rumah tangga menjaga konsumsinya dan membantu perusahaan menghindari kepailitan. Akan tetapi, beberapa negara mengalami kesulitan untuk memperluas program perlindungan sosialnya yang terbatas, di mana sebelumnya mereka membelanjakan hanya kurang dari 1% PDB-nya," sebutnya.

Seiring dengan menurunnya tingkat neraca perbankan dan meningkatnya ketidakpastian, kondisi utang negara dan swasta dinilai akan menghambat investasi dan menjadi risiko bagi stabilitas perekonomian di mana saat kawasan ini justru membutuhkan keduanya.

"Masyarakat yang sakit, tidak punya pekerjaan, dan ditutupnya sekolah-sekolah dapat mengakibatkan terkikisnya modal manusia dan hilangnya pendapatan yang berlangsung sepanjang hidup. Tutupnya perusahaan dan gangguan pada hubungan antara perusahaan dengan para pekerjanya dapat mengurangi produktifitas melalui hilangnya aset-aset tak berwujud yang bernilai," sebutnya.

(fdl/fdl)