Petani Sawit Terhimpit Perusahaan Besar, Sri Mulyani Minta BPDPKS Benahi

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 12:02 WIB
Malaysia - Indonesia: Perkebunan sawit Malaysia kekurangan tenaga kerja, apakah ada koridor khusus pekerja WNI?
Foto: BBC World
Jakarta -

Kelapa sawit merupakan salah satu industri yang besar di Indonesia. Pelakunya bukan hanya perusahaan swasta besar tapi juga para petani kelapa sawit.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, petani mandiri kelapa sawit saat ini kepemilikan lahannya semakin terbatas. Produktivitasnya akhirnya kalah dengan perusahaan swasta besar.

"Kelapa sawit di Indonesia sebagian besar dimiliki oleh para petani mandiri yang jumlah lahannya terbatas dan produktivitasnya masih relatif lebih rendah dibandingkan yang dimiliki perusahaan swasta besar," ujarnya dalam acara Launching Pengembangan Potensi Santripreneur Berbasis UKMK Sawit sebagai Program Pemberdayaan Ekonomi Daerah secara virtual, Kamis (1/1/2020).

Melihat persoalan itu, Sri Mulyani meminta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk membenahinya. BPDPKS sendiri berada langsung di bawah Kementerian Keuangan. Badan ini bertugas mengelola dana perkebunan kelapa sawit dan menjaga keberlangsungan industri.

"Ini adalah salah satu tugas saya harapkan untuk BPDPKS untuk bisa membantu para petani mandiri dari sisi replanting dan produktivitas kelapa sawit per hektarnya. Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan dari para petani sawit," ucapnya.

Meski begitu, dirinya menyambut baik kegiatan yang dilakukan BPDPKS bersama Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, dengan pemerintah daerah dan pesantren untuk mendorong santripreneur di bidang kelapa sawit. Sehingga para santri bisa ikut meningkatkan nilai tambah dari kelapa sawit yang merupakan produk yang penting di Indonesia.

"Ini adalah 2 kombinasi yang sangat penting. Pesantren tadi telah disebutkan merupakan suatu lembaga lebih dari 28.000 di seluruh Indonesia yang tadi menyangkut lebih dari 18 juta adalah lembaga pendidikan dan sekaligus juga pembentukan karakter yang sangat penting di Indonesia. Kelapa sawit adalah salah satu industri atau kegiatan ekonomi perkebunan yang luar biasa penting di Indonesia, termasuk di dalam ekspor," tuturnya.

"Kalau dua institusi atau dua hal yang penting ini bergabung, kita berharap akan menciptakan dampak yang sangat positif pertama tentu bagi lembaga pesantren dan para santrinya dan yang kedua adalah untuk industri kelapa sawit itu sendiri," tambahnya

Sri Mulyani melanjutkan, industri kelapa sawit merupakan industri penyumbang devisa yang cukup besar di Indonesia. Besarannya mencapai US$ 21,4 miliar atau 14% lebih dari total penerimaan devisa dari ekspor non migas.



Simak Video "Waduh, Swiss Bakal Gelar Referendum Tolak Sawit Asal Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)