Pasti Minus, Ini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal III 2020

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 05 Okt 2020 15:53 WIB
Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi perekonomian Indonesia tumbuh pesat tahun ini. Pertumbuhan itu disebut melampui negara tetangga Malaysia.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Keuangan mengungkapkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi di kisaran minus 2,9% sampai minus 1% pada kuartal III-2020. Angka tersebut masih berada di teritori negatif meskipun ada perbaikan dari kuartal sebelumnya.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengatakan titik tengah pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran minus 1,95% pada kuartal III-2020.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia kontraksi di triwulan II sebesar minus 5,32% dan kemungkinan terkontraksi pula di kuartal 3 dengan kisaran minus 2,9% sampai dengan minus 1% dengan titik tengah -1,95%," kata Iskandar dalam acara pembukaan bulan inklusi keuangan (BIK) 2020 secara virtual, Senin (5/10/2020).

Dia mengatakan, pandemi Corona telah menyebar ke 213 negara di dunia. Angka penyebaran kasus masih menandakan adanya peningkatan. Hal itu akan menjadi ketidakpastian bagi perekonomian global maupun Indonesia.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, dikatakan Iskandar karena penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa provinsi di tanah air. Tujuan penerapan itu untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 namun berdampak besar bagi kegiatan ekonomi.

"Pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran COVID telah mengakibatkan terjadinya kontraksi ekonomi di seluruh negara dunia termasuk Indonesia," jelasnya.

Meski berada pada teritori negatif, Iskandar mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal III-2020 mengalami perbaikan dibandingkan realisasi kuartal II yang minus 5,32%.

"Tercermin dari perbaikan PMI dan indeks keyakinan konsumen. Dibandingkan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara khususnya di Eropa dan Asia Tenggara," ungkapnya.

(hek/eds)