Jokowi Dorong Pengembangan Model Korporasi bagi Petani dan Nelayan

Angga Laraspati - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 18:51 WIB
Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo memimpin  upacara Peringatan HUT ke-75 TNI yang digelar secara virtual dari Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2020). Peringatan HUT ke-75 TNI tahun 2020 dilakukan secara terbatas dan hanya di ikuti 14 orang sesuai dengan standar protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Dok. Puspen TNI
Foto: Dok.Puspen TNI
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus mendorong pengembangan korporasi petani dan nelayan yang diharapkan dapat membangun proses bisnis dari hulu ke hilir. Sebagai langkah awal, Jokowi meminta jajarannya untuk fokus membangun satu atau dua model bisnis di suatu provinsi untuk menjadi benchmark bagi wilayah lain.

"Belajar dari pengalaman, saya yakin akan banyak kelompok tani dan nelayan lain yang mau meng-copy, dan meniru kalau melihat ada contoh korporasi petani dan nelayan yang dilihat berhasil dan bisa mensejahterakan," tutur Jokowi dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2020).

Saat rapat terbatas di Istana Bogor, Jokowi mengungkapkan pengembangan model korporasi bagi petani dan nelayan diharapkan dapat memberikan dampak besar bagi ekonomi Indonesia. Apalagi saat ini pertanian merupakan sektor terbaik dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kuartal kedua sektor pertanian tumbuh positif 16,24 persen. Angka ini harus terus kita jaga momentumnya sehingga bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan," jelas Jokowi.

Di sisi lain, Jokowi mengatakan petani dan nelayan perlu didorong untuk berkelompok dalam jumlah yang besar dan berada di dalam sebuah korporasi untuk memperoleh skala ekonomi yang efisien.

"Petani dan nelayan perlu didorong untuk berkelompok dalam jumlah yang besar dan berada dalam sebuah korporasi sehingga diperoleh skala ekonomi efisien yang bisa memudahkan petani dan nelayan dalam akses pembiayaan, informasi, teknologi, serta meningkatkan efisiensi maupun memperkuat pemasarannya," ungkap Jokowi.

Jokowi pun meminta agar ekosistem bisnis korporasi petani dan nelayan dibuat terpadu. Sehingga BUMN, BUMD dan swasta besar tidak sebatas mengambil hasil panen tetapi juga mendampingi korporasi petani.

"Kita perlu membangun sebuah model bisnis dengan ekosistem yang bisa di-link-an dan disambungkan mungkin dengan BUMN dan swasta besar," kata Jokowi.

Pemerintah kini juga sudah mempunyai rencana untuk mengimplementasikan model korporasi dalam pengembangan food estate. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pun juga telah memastikan pengembangan food estate yang menggunakan konsep klaster berbasis korporasi dengan mengunjungi pembangunan food estate di Pulau Pisang, Kalimantan Tengah, 12 September yang lalu.

Menurut Syahrul, penumbuhan dan pengembangan korporasi petani diyakini mampu mewujudkan kelembagaan ekonomi petani yang berbentuk usaha di kawasan pertanian. Tujuannya adalah mendorong petani mengelola seluruh rantai produksi usaha tani, mulai dari pengolahan hingga pemasaran.

"Korporasi petani mengutamakan daya saing, inovasi dan kreativitas menghadapi lingkungan bisnis pertanian yang dinamis dan penuh tantangan," pungkas Syahrul

(mul/ega)