Liputan Khusus

Penonton Bayaran Kala Pandemi: Diusir dari Kontrakan hingga Jadi Gembel

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 11 Okt 2020 17:14 WIB
Calon penonton laga leg pertama semifinal Piala AFF 2016 antara Timnas Indonesia kontra Vietnam mengantre untuk membeli tiket di loket Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (02/12/2016) pagi.
Foto: Rengga Sancaya

Jualan Rempeyek hingga Jual Motor untuk Bayar Kontrakan

Dimas sebagai anak sebatang kara di Jakarta harus putar otak mencari pekerjaan lain agar tetap bisa bertahan hidup. Sejak tidak menjadi penonton bayaran, dirinya hanya di rumah sambil berjualan makanan secara online yang dibuatnya sendiri. Dia juga meletakkan dagangannya di warung-warung tetangga untuk dijualkan.

"(Sekarang) di rumah saja, jualan makanan kayak ceker mercon, rempeyek, gitu-gitu lah bikin sendiri, emang suka masak. Kalau rempeyek nunggu ada pesanan, tapi nyetok juga kayak di warung-warung aku naro. Nggak setiap hari sih kayak satu minggu sekali, sepuluh hari sekali, baru naro gitu di warung tetangga," jelasnya.

Meski begitu, hasilnya dinilai jauh berbeda dengan pendapatannya saat menjadi penonton bayaran. Jika dari penonton bayaran bisa mendapat Rp 150.000 per hari, dari jualan dirinya hanya dapat Rp 30.000 sampai Rp 40.000 per hari.

"Dulu pas jadi penonton bayaran 1 program Rp 50.000, satu hari bisa Rp 150.000. Sekarang penghasilan dari jualan cuma buat muter saja setiap hari, buat makan kayak gitu-gitu saja," ucapnya.

Penonton bayaran lainnya, Yulia Putri (35) sudah menjual barang-barang berharganya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Terbaru, dia menjual motor untuk bayar kontrakan hingga memenuhi kebutuhan 2 anaknya.

"Kalau untuk makan saya banyak teman, teman banyak yang bantu. Cuma kalau kontrakan itu yang paling berat sih. Sekarang masih bisa cuma agak telat bayarnya, bayarnya juga nggak full karena ibu kost-nya nggak mau ngerti. Saya bilang 'yaudah saya bayar tapi nggak bisa full nanti kalau sudah kerja saya ganti kekurangannya'. Sudah banyak juga barang yang dijual, aku terakhir kemarin jual motor karena buat kontrakan, buat anak juga, yang ada itu dulu," imbuhnya.

Kini dirinya hanya mengandalkan gaji dari suami yang bekerja serabutan. Yulia sebenarnya sempat berjualan rempeyek seperti Dimas, namun terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena sepi tidak ada yang membeli.

"Pas Maret kita kan diliburkan, April aku coba bikin rempeyek itu aku tawarin ke teman-teman, kalau nggak salah pas mau lebaran itu lumayan pesanan, cuma setelah lebaran sepi jadi aku berhenti dulu. Penghasilan dari suami saja, tadinya dia di kantor bagian alat berat cuma kontrak kerjanya nggak diperpanjang dari sebelum Corona sih, dia sempat sama temannya jualan Kebab, cuma lagi libur juga karena Corona. Jadi kayak gitu-gitu saja lah serabutan," tandasnya.

Halaman

(dna/dna)