3 Fakta Ekonomi RI Diramal IMF Minus 1,5%

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 14 Okt 2020 19:00 WIB
Pertumbuhan ekonomi
Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang sampai saat ini belum bisa diselesaikan membuat laju perekonomian dunia menjadi tak menentu. Akhir-akhir ini, beberapa lembaga internasional merevisi kembali angka proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia maupun masing-masing negara.

Paling anyar, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang merilis angka proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia mau pun masing-masing negara termasuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berikut fakta-faktanya:

1. Ekonomi RI Minus 1,5%

Khusus Indonesia, IMF merevisi kembali pertumbuhan ekonomi nasional menjadi minus 1,5% di tahun 2020. Angka tersebut lebih dalam dibandingkan proyeksi di bulan Juni yang minus 0,3% sepanjang tahun ini.

Sementara untuk keseluruhan ASEAN 5 yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam angka pertumbuhan ekonominya minus 3,4% di sepanjang tahun 2020. Angka proyeksi ini masih memperhitungkan ketidakpastian yang berasal dari COVID-19.

Rinciannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 1,5%, Thailand minus 7,1%, Malaysia minus 6,0%, Filipina minus 8,3%, dan Vietnam berada di zona positif yaitu 1,6%. Dari data tersebut, ekonomi Filipina yang terkontraksi paling dalam.

"Semua pasar negara berkembang dan kawasan ekonomi berkembang akan mengalami kontraksi tahun ini termasuk negara berkembang di Asia," kata Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath seperti yang dikutip dalam laporan World Economic Outlook (WEO) IMF, Rabu (14/10/2020).

2. Ekonomi Dunia

Sedangkan untuk ekonomi dunia atau global, IMF merevisi menjadi minus 4,4% sepanjang tahun 2020. Angka ini lebih baik sedikit dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di minus 4,9%.

Sementara negara berkembang lainnya di Asia, yaitu China dan India. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China berada di zona positif yaitu 1,9% di tahun 2020. Sementara India, pertumbuhan ekonominya minus 10,3%.

3. Beda Dengan Proyeksi Kementerian Keuangan

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah melakukan revisi pada proyeksi perekonomian Indonesia kuartal III. Sebelumnya ekonomi Indonesia diprediksi minus 1,1% hingga positif 0,2%.

Namun revisi menjadi minus 1,7% hingga minus 0,6%.

"Ini artinya negative territory terjadi pada kuartal III dan kemungkinan masih berlangsung pada kuartal IV dan kita berusaha mendekati nol atau positif," jelas dia.

Jika proyeksi ekonomi kuartal III 2020 benar-benar terjadi negatif, maka Indonesia masuk ke dalam resesi ekonomi. Hal ini karena pada kuartal II kemarin Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang minus 5,3%.

(hek/eds)