Penerbangan Makin Anjlok, Maskapai Raksasa AS Rugi Rp 26 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 10:40 WIB
A United Airlines Boeing 787 taxis as a United Airlines Boeing 767 lands at San Francisco International Airport, San Francisco, California, February 7, 2015.   REUTERS/Louis Nastro/File Photo
Foto: (REUTERS/Louis Nastro)
Jakarta -

Maskapai asal Amerika Serikat (AS) United Airlines membukukan kerugian bersih pada kuartal-III 2020 sebesar US$ 1,8 miliar setara Rp 26,4 triliun (kurs Rp 14.700). Kerugian disebabkan semakin turunnya permintaan perjalanan udara sejak pandemi COVID-19.

Dikutip dari CNBC, Kamis (15/10/2020) pendapatan pada periode tersebut turun 78% menjadi US$ 2,49 miliar (Rp 36,6 triliun) dari US$ 11,38 miliar (Rp 167 triliun) pada kuartal-III 2019. Turunnya pendapatan juga karena maskapai raksasa AS ini memangkas kapasitas operasi 70% sejak tahun lalu.

United membukukan kerugian per saham sebesar US$ 8,16. Angka itu lebih besar dari perkiraan analis Wall Street yang memprediksi kerugian hanya US$ 7,53 per lembar. Maskapai juga memotong modal hariannya pada kuartal tersebut menjadi US$ 25 juta (Rp 367 miliar) sehari. Pemotongan juga dilakukan pada utang dan gaji karyawan dengan rata-rata turun sekitar US$ 40 juta (Rp 588 miliar) sehari.

Maskapai ini mengakhiri kuartal-III dengan likuiditas US$ 19,4 miliar (Rp 285 triliun). United juga telah mengumpulkan miliaran untuk membantu mengatasi dampak dari pandemi COVID-19. Termasuk menjual saham dan berutang senilai US$ 6,8 miliar (Rp 99,9 triliun) dari program frequent flyer MileagePlus.

Selain itu, maskapai juga telah menerima US$ 25 miliar dalam dukungan penggajian dari pemerintah AS dengan syarat dilarang melakukan PHK, cuti paksa, dan potong gaji hingga 30 September 2020.

United awal bulan ini mulai memberhentikan sekitar 13.000 karyawan setelah persyaratan dukungan penggajian berakhir. United dan maskapai lain telah berulang kali mendesak pemerintah AS untuk memperpanjang bantuan penggajian, namun kesepakatan belum dilayangkan hingga saat ini.

Meski permintaan perjalanan udara menurun, layanan jasa pengiriman kargo milik United mengalami peningkatan pada kuartal III dengan pertumbuhan pendapatan hingga 50% menjadi US$ 422 juta (Rp 6,2 triliun). Hal itu didukung banyaknya orang di rumah saja namun tetap ingin mengirimkan barang untuk kerabat.

Saham United turun 0,4% dalam perdagangan. Selain United, maskapai AS yang telah melaporkan kerugian kuartal-III yakni Delta Airlines dengan kerugian bersih sebesar US$ 5,4 miliar.

(ara/ara)