RI Menang Dagang Lawan AS, Keok Sama China

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 12:54 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, nilai ekspor Indonesia sampai saat ini kalah dengan negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia berhasil surplus dengan Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina. Namun demikian, masih defisit dengan China, Ukraina, dan Brasil.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan Indonesia dengan AS surplus sebesar US$ 1,08 miliar. Nilai surplus ini dikarenakan ekspor Indonesia lebih besar dibandingkan dengan impornya.

"Karena ekspor kita US$ 1,68 miliar dan impor kita US$ 607,4 juta," kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Sedangkan dengan India, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 562,5 juta dikarenakan nilai ekspor sebesar US$ 864,2 juta dan nilai impor US$ 301,7 juta. Sementara dengan Filipina surplus US$ 491,2 juta. Di mana nilai ekspor US$ 531,8 juta dan impornya US$ 40,6 juta.

Sebaliknya, neraca perdagangan Indonesia masih defisit terhadap beberapa negara seperti China, Ukraina, dan Brasil. Dengan China, Suhariyanto mengatakan defisit US$ 879,2 juta. Di mana nilai ekspor US$ 2,62 miliar sedangkan impornya US$ 3,50 miliar.

Dengan Ukraina defisit US$ 140,1 juta karena nilai ekspornya US$ 25,4 juta dan impornya US$ 165,5 juta. Sedangkan dengan Brasil defisit US$ 119,3 juta. Hal itu berasal dari nilai ekspor sebesar US$ 106,4 juta dan nilai impornya US$ 225,7 juta.

"Sebaliknya dengan Tiongkok kita defisit US$ 879,2 juta, lalu dengan Ukraina dan Brasil," ungkapnya.

Sementara neraca perdagangan Indonesia sendiri mengalami surplus US$ 2,44 miliar hingga September 2020. Hal itu dikarenakan nilai ekspornya US$ 14,01 miliar sedangkan impornya US$ 11,57 miliar.

Jika dikumulatifkan dari Januari-September 2020, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 13,51 juta. Di mana total nilai ekspor US$ 117,19 miliar dan nilai impor sebesar US$ 103,68 miliar.

(hek/fdl)