Ekspor-Impor RI Masih Bergantung dengan China

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 14:51 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/2/2020). Selama Januari 2020, ekspor nonmigas ke China mengalami penurunan USD 211,9 juta atau turun 9,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm). Sementara secara tahunan masih menunjukkan pertumbuhan 21,77 persen (yoy).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kinerja ekspor dan impor Indonesia masih bergantung dengan China. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat negeri Tirai Bambu menjadi tujuan utama ekspor dan impor tanah air di September 2020.

Per September 2020, dari nilai ekspor US$ 14,01 miliar sekitar 19,75% atau stara US$ 2,63 miliar tertuju ke China. Selanjutnya disusul oleh Amerika Serikat (AS) sebesar 12,68% atau US$ 1,69 miliar dan Jepang sebesar 7,98% setara US$ 1,06 miliar.

"Ekspor kita ke Tiongkok itu masih mengalami peningkatan US$ 163,3 juta. Ekspor ke India juga masih naik, demikian ke Jepang, AS, dan Malaysia," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Secara total, kinerja ekspor 10 golongan barang utama yang diekspor Indonesia ke banyak negara juga mayoritas tercatat meningkat. Pertama, lemak dan minyak hewan/nabati nilainya US$ 1,7 miliar atau naik 13,09%. Kedua, besi dan baja nilainya US$ 1,08 miliar atau naik 32,48%. Ketiga, bahan bakar mineral nilainya US$ 1,06 miliar atau turun 3,84%. Keempat, mesin dan perlengkapan elektrik nilainya US$ 845,8 juta atau naik 7,07%.

Kelima, logam mulia, perhiasan/permata nilai US$ 737,3 juta atau turun 13,32%. Keenam, kendaraan dan bagiannya nilainya US$ 640,8 juta atau naik 28,26%. Ketujuh, karet dan barang dari karet nilainya US$ 508,5 juta atau naik 6,30%. Kedelapan, mesin dan peralatan mekanis nilainya US$ 436,3 juta atau naik 1,37%. Kesembilan, kertas, karton, dan barang daripadanya nilainya US$ 358,8 juta atau naik 0,97%. Kesepuluh, alas kaki nilainya 326,5 juta atau naik 5,76%.

Sedangkan dari sisi Impor, BPS mencatat China berada di posisi teratas paling besar sebagai negara tujuan impor nasional. Dari total impor US$ 11,57 miliar sekitar 33,73% atau US$ 3,51 miliar berasal dari negeri Tirai Bambu ini. Namun demikian, kenaikan impor Indonesia paling besar berasal dari Jepang di September 2020. Kemudian disusul oleh Korea Selatan, China, Ukraina, dan Singapura.

"Impor kita dari Jepang pada September ini naik US$ 208,3 juta. Dari Korea Selatan juga meningkat, demikian Tiongkok, Ukraina, dan Singapura," jelasnya.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini bilang, secara total kinerja impor 10 golongan barang utama yang diimpor Indonesia ke banyak negara seluruhnya meningkat. Pertama, mesin dan peralatan mekanis nilainya US$ 1,76 miliar atau naik 6,28%. Kedua, mesin dan perlengkapan elektrik nilainya US$ 1,68 miliar atau naik 5,07%. Ketiga, plastik dan barang dari plastik nilainya US$ 567,9 juta atau naik 3,02%. Keempat, besi dan baja nilainya US$ 556,2 juta atau naik 17,89%. Kelima, bahan kimia organik nilainya US$ 397,3 juta atau naik 1,39%.

Keenam, kendaraan dan bagiannya nilainya US$ 279,4 juta atau naik 29,92%. Ketujuh, serealia nilainya US$ 273,9 juta atau naik 33,46%. Kedelapan, perangkat optik, fotografi, sinematografi, medis nilainya US$ 250,4 juta atau naik 7,14%. Kesembilan, berbagai produk kimia nilainya US$ 247,3 juta atau naik 14,75%. Kesepuluh, ampas/sisa industri makanan nilainya US$ 235,6 juta atau naik 1,44%.

(fdl/fdl)