Ke Boyolali, Mentan Sentil yang Suka Lempar Sayur-Ayam Saat Harga Anjlok

Ragil Ajiyanto - detikFinance
Kamis, 15 Okt 2020 19:35 WIB
Menteri pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berdialog dengan warga di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali
Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom: Menteri pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berdialog dengan warga di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali
Boyolali -

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mengatakan adanya sejumlah komoditi pertanian, seperti sayuran yang harganya sempat anjlok, merupakan dinamika terkait adanya suplay dan demand. Respons terkait hal itu dilakukan per wilayah.

"Jadi begini dinamika kan ini seluruh Indonesia. Sayur komoditi beras dan lain-lain ini, komodoti pertanian itu kan sehari-hari dibutuhkan masyarakat. Sehingga dinamikanya sering naik turun, suplay and demand, kalau lagi panen otomatis agak lebih, agak turun dan lain-lain," kata Syahrul Yasin Limpo, disela-sela kunjungan kerja ke embung Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Kamis 15/10/2020).

Untuk menstabilkan harga, lanjut dia, responnya per wilayah. Wilayah yang surplus diarahkan untuk dibawa ke daerah yang kekurangan atau defisit tehadap komoditi tersebut.

"Seperti itu. Tapi ini kan kadang-kadang ada yang tidak sabar, ya suasana lapangan ya, oleh karena itu secara umum sih semua orang butuh sayur, permintaan sayur banyak, jadi kalau ini turun, ya tentu saja, ya mana daerahnya. Kadang-kadang juga isunya saja yang lebih besar, ada orang yang tiba-tiba lempar sayur di pinggir jalan, padahal ini modus, cari sensasi lah. Lempar-lempar ayam, padahal nggak, dinas di sana, setelah dikontak kepala dinas, gimana sebenarnya?, bupati gimana? Nggak, aman-aman saja. Dinamika naik turun kan antara suplai dan demand ini kan hukum ekonomi gitu loh," ujarnya.

Mentan menyatakan sektor pertanian tidak terganggu dengan pandemi virus Corona atau COVID-19. Bahkan, produk pertanian naik 16,4 persen dan ekspornya diatas 251 triliun.

"Yang naik itu cuma pertanian, data BPS, kami naik tetap 16,4 persen. Itu tandanya akselerasu pertanian di tengah-tengah COVID, akselerasu tetap berputar dengan baik kita. Ya, alhamdulillah, ini dari Januari ke Juli, ekspor kita masih diatas 251 triliun. Itu tandanya sebenarnya pertanian tidak terganggu dengan COVID yang ada dan tetap menjadi ruang-ruang dan peluang untuk perputaran bisnis dan ekonomi yang ada," terang dia.

Namun pertanian ini tetap harus dijaga dan tidak boleh hanya dengan data. Tetapi harus turun untuk melihat secara langsung. Pasalnya, setiap wilayah tidak sama dan memilik karakter sendiri-sendiri.

Yasin Limpo, juga yakin hasil panen di masa pandemi COVID-19 ini terhadap ketersediaan atau stok pangan juga mencukupi. Disebutkan dia, dari data BPS hasil panen pada masa tanam (MT) satu, ada over stok hingga 7,4 juta ton beras.

Hasil panen pada MT 2, diharapkan bisa mencapai 13 hingga 15 juta ton. Sehingga di akhir tahun atau memasuki tahun 2021 ada surplus 22 juta ton beras.

"Panen kita aman, saya yakin banget aman. MT 1 yang tercatat di kita data BPS itu over stoknya sampai 7,4 juta ton beras. Nah sekarang MT 2 , saya lakukan percepatan kurang lebih 5,8 juta hektar, sudah tertanam hampir 89 persen. Sehingga kita masih punya 4 bulan, Insya Allah hasilnya akan diatas 13 juta ton, oleh karena itu yang kita butuhkan makan hanya 15 juta ton, kurang lebih. Dari 7 tambah 13 sampai 15 juta ton, berarti kita punya 22 (juta ton) over stok masuk di 2021, dan sebelum 2021 sudah jalan pertanaman berikutnya. (Surplus) Mudah-mudahan," jelas Yasin Limpo.

"Cuma pertanian tetap dengan cuaca yang harus kita tetap dalam doa lah. Tetapi saya coba, sesuai perintah bapak Presiden untuk menjaganya dari wilayah ke wilayah," imbuh dia.

(hns/hns)