PSBB Transisi Nyaris Sepekan, 40% Restoran di DKI Masih Tutup

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2020 11:01 WIB
PSBB Jakarta yang diperketat kembali sejak 14 September lalu menyebabkan restoran-restoran kian menjerit.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) DKI Jakarta jilid II telah berjalan sejak Senin, (12/10) lalu. Di PSBB transisi jilid II ini, restoran dan kafe diperbolehkan untuk melayani makan di tempat atau dine in kembali.

Namun, Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran Emil Arifin mengatakan, hampir sepekan PSBB transisi jilid II berjalan, sekitar 40% restoran di Jakarta masih tutup.

"Sekitar 40% masih pada tutup. Coba saja main-main ke mal. Teman-teman di Pacific Place juga masih pada tutup," kata Emil kepada detikcom, Jumat (16/10/2020).

Ia mengatakan, masih banyak pengusaha restoran yang menunggu untuk membuka kembali restorannya. Ada yang menunggu hingga demo Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja usai, ada yang menunggu hingga demand terkerek kembali.

"Mungkin tunggu habis demo-demo ini, karena itu mereka belum mau buka. Ada juga yang belajar dari PSBB transisi sebelumnya, jadi menurut mereka buat apa buka sekarang, mending tunggu 1-2 minggu, atau 1-2 bulan baru buka. Karena untuk create demand itu bisa 1-2 bulan," jelas Emil.

Emil mengatakan, bagi pengusaha restoran, membuka kembali restoran atau layanan dine-in di PSBB transisi jilid II ini lebih berat. Pasalnya, kemampuan finansial para pengusaha sudah sangat anjlok.

"Ketika PSBB ketat di Maret itu masih bisa hiduplah. Tapi sampai Juni-Juli sudah banyak yang kehabisan uang. Nah begitu dibuka lagi di PSBB transisi pertama itu masih bisa jalan. Masih bisa nego sama mal soal bayar sewa ditunda, sama supplier. Nah ketika PSBB diperketat lagi September itu, yang mau ambruk tapi masih bisa survive, itu benar-benar ambruk," papar dia.

Namun, para pengusaha menyambut baik kebijakan dine-in dibuka kembali lagi ini. Hanya saja, untuk memulihkan kinerja perusahaannya itu membutuhkan waktu yang tak sebentar.

"Kita menyambut baiklah. Tapi kondisi para pengusaha memang tidak sama. Ada yang masih bisa jalan, ada yang menunggu pendanaan, ada yang harus menyelesaikan pembayaran dulu ke supplier, ada yang masih harus rekrut pegawai lagi. Jadi banyak yang nggak bisa langsung buka," tandas Emil.

(eds/eds)