Simak Tips Biar Nggak Tertipu Layanan Online Selama PSBB

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 18 Okt 2020 15:58 WIB
BPKN merekomendasikan iuran bpjs tak naik
Foto: Ketua BPKN Rizal E Halim (Istimewa/BPKN)
Jakarta -

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mencatat, pengaduan konsumen mengenai layanan e-commerce meningkat saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pengaduan ini semakin marak sejalan dengan maraknya transaksi online selama PSBB.

Lalu, bagaimana caranya biar calon konsumen tak tertipu layanan digital ini?

Ketua BPKN Rizal E Halim mengatakan, calon konsumen mesti hati-hati dalam memilih produk layanan online. Menurutnya, perlu pengecekan terhadap informasi yang ditawarkan. Kalau perlu, kata dia, konfirmasi pada orang yang pernah menggunakan layanan tersebut.

"Kita sudah berkali-kali menyampaikan dan mungkin saat ini kita sampaikan juga, bahwa hati-hati memilih produk atau jasa yang diiklankan di dunia digital. Cek kredibilitas, cek kebenaran informasi, cek lakukan validasi informasi. Lakukan double crossceck para pengguna yang pernah," katanya kepada detikcom, Minggu (18/10/2020).

Menurutnya, jika ada iming-iming atau tawaran yang berlebihan maka bisa dipastikan produk atau jasa yang ditawarkan bodong.

"Untuk kasus-kasus barang dan jasa yang tersedia, yang dipasarkan di dunia maya hati-hati memilihnya. Kalau ada iming-iming berlebihan saya pastikan itu bohong. Saya pastikan itu bodong jadi lihat kelayakan informasi itu bisa dilihat dari pesan yang disampaikan," ujarnya.

BPKN sendiri menerima layanan pengaduan di sejumlah kanal antara lain Instagram, Facebook dan juga Twitter. Tak hanya itu, pihaknya juga membuka layanan via website.

"Tidak cukup? Kami menyediakan hotline Whatsapp 08153153153. Tidak cukup dengan itu, kita menyediakan call center 153. Kenapa 153? Karena 15 Maret hari konsumen dunia," ujarnya.

BPKN juga sedang menyiapkan aplikasi berbasis mobile. Harapannya, aplikasi ini bisa selesai dalam waktu dekat.

"Saat ini kita sudah selesai membangun aplikasi berbasis mobile untuk meng-capture generasi-generasi milenial, generasi Z, genrasi Y bahkan generasi baby boomers. Aplikasi berbasis mobile sudah selesai mungkin akhir bulan selesai berbasis Android, iOS," ujarnya.

(acd/dna)