Sri Mulyani Ungkap Angin Segar Ekonomi Dunia, Apa Itu?

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 09:50 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Sri Mulyani membahas kondisi ekonomi di tahun 2020.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dalam pertemuan tahunan World Bank-IMF pekan ini diproyeksikan bahwa kontraksi ekonomi pada tahun ini tidak sedalam yang terjadi pada Juni 2020. Ekonomi global mengalami kontraksi minus 5,2% pada Juni berdasarkan data IMF dan kontraksinya diproyeksi mereda menjadi minus 4,4% tahun ini.

"Ini artinya beberapa daerah, utamanya negara advance ada pemulihan cepat di kuartal III. Pada bulan lalu kontraksi di semua negara mengalami kontraksi yang sangat dalam," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN KITA, Senin (19/8/2020).

Lembaga internasional lainnya, OECD juga memproyeksi ekonomi global minus 4,5% tahun ini. Sedangkan berdasarkan data OECD, pada Juni terjadi kontraksi hingga minus 7,6%.

Sri Mulyani melanjutkan, ekonomi dunia tahun depan diperkirakan tumbuh di kisaran 4,2-5,2% berdasarkan proyeksi dari IMF, OECD, dan World Bank. IMF memproyeksi ekonomi global tumbuh 5,2%, OECD 5%, dan World Bank 4,2%.

"Risiko utama tetap sama apakah COVID bisa dikelola, terutama ancaman second wave dan apakah kesediaan vaksin berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Meski banyak pandangan soal vaksin ini, tapi outlook-nya sudah ada penyediaan vaksin," tuturnya.

Dalam bahan paparan Sri Mulyani juga tertulis asesmen IMF dan OECD memperkirakan ekonomi global tahun ini lebih baik karena pemulihan ekonomi terjadi lebih cepat dari perkiraan. Namun adanya second wave menimbulkan ketidakpastian.

Kemudian, outlook pertumbuhan di beberapa negara berkembang sedikit mengalami penurunan di tengah COVID-19. Hal yang dapat mempengaruhi perkiraan ke depan adalah eskalasi COVID-19 dan ketersediaan vaksin. Kerja sama antarnegara menjadi kunci pemulihan ekonomi global.

(ara/ara)