Pedagang Mobil Bekas Bak Naik Roller Coaster karena Wacana Pajak 0%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 20 Okt 2020 17:09 WIB
Kebiasaan baru atau new normal rupanya tidak berpengaruh dengan angka penjualan mobil bekas. Kini pengusaha mobil bekas pun mulai menjerit.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pedagang mobil bekas bercerita kondisi pasar beberapa waktu ini membuat mereka bagaikan naik roller coaster. Naik turun tak menentu.

Senior Marketing Manager WTC Mangga Dua, Herjanto Kosasih mengatakan sejak awal pandemi penjualan mobil bekas sudah lesu dan sempat naik kembali saat digaungkan adanya era new normal. Namun, penjualan mobil bekas kembali turun saat PSBB sempat diperketat.

Naik turun belum selesai, penurunan makin tajam karena adanya wacana pajak mobil baru 0%. Di saat itu, menurut Herjanto penjualan mobil bekas hampir tiarap karena semua orang menahan diri membeli mobil.

"Jadi gini, ini ajaib banget ya buat kita, udah PSBB ketat aja membuat penjualan nge-drop ditambah wacana pajak 0%. Tadinya grafik naik, terus turun tajam, ini kita kayak naik roller coaster," ungkap Herjanto kepada detikcom, Selasa (20/10/2020).

Menurutnya penurunan paling tajam dirasakan saat wacana pajak mobil baru 0% bergulir. Hal ini membuat mobil bekas tak laku.

"Ibarat dari 1-10 kita sudah di angka 7-8, pas PSBB diperketat, itu bikin jatuh ke 1-2. Nah ditambah lagi isu 0% ini, sudah lah orang nggak beli mobil, tiarap kita semua, ada kali sebulan," ujar Herjanto.

Meski begitu, dia sudah lega karena Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menolak usulan pajak mobil baru 0%. Imbas dari keputusan itu cukup instan dirasakannya.

Dia mengatakan di hari yang sama saat Sri Mulyani menolak usulan pajak mobil baru 0%, banyak orang ke toko mobil bekas.

"Semua orang kan nahan, begitu Sri Mulyani bilang nggak boleh, langsung itu siang dan sorenya ramai tempat kita," ungkap Herjanto.

Naik turun masih belum selesai, kini menurut Herjanto, pihaknya sedang mempersiapkan lonjakan permintaan. Pasalnya, di akhir bulan ini ada liburan panjang, kemungkinan masyarakat yang menahan pembelian akhirnya akan membeli mobil untuk liburan. Terlebih lagi di masa pandemi, mobil pribadi lebih dipilih untuk digunakan bepergian dibandingkan naik angkutan umum.

"Ini semua orang tuh sekarang lagi siap-siap beli mobil, buat pulang kampung. Apalagi akhir bulan ada libur pengganti lebaran. Kan mereka sekarang lebih prefer ke mobil pribadi kan," ungkap Herjanto.

(ara/ara)