Mau Buka Usaha Tanaman Hias? Janda Bolong Cs Paling Laku

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 15:09 WIB
Tanaman hias janda bolong variegata menghebohkan Tanah Air. Tanaman hias itu harganya tembus hingga puluhan juta rupiah. Selain janda bolong, ada jenis tanaman hias monstera obliqua yang juga laris manis dijual per helai daunnya.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tanaman hias kini menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan. Terlebih lagi dengan trennya yang makin menjadi di tengah pandemi.

Pengusaha tanaman hias Rico Rusdiansyah berbagi tips untuk memulai bisnis tanaman hias. Rico sendiri sudah sukses berbisnis tanaman hias melalui Titik Hijau, lewat usahanya ini dia bahkan sudah berhasil mengekspor tanaman hias dari Indonesia.

Dalam membesut bisnis tanaman hias, Rico menyarankan agar fokus menjual tanaman-tanaman dalam jenis Araceae. Pasalnya beberapa varietas dalam kelas tanaman ini sedang menjadi tren.

"Produk apa saja yang populer, kebanyakan beberapa varietas dari grup tanaman yang cukup populer itu Araceae. Turunannya banyak termasuk Monstrea, yang ada disebut kemarin janda bolong itu," kata Rico dalam Festival Ide Bisnis detikcom yang disponsori PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Kamis (22/10/2020).

"Kalau mau main tanaman hias di segmen ini saja, karena bagus pasarnya," ujarnya.

Dalam paparannya, beberapa varietas yang laku di pasar dari kelas Araceae adalah jenis tanaman Monstera, Alocasia, Anthurium, hingga Philodendron.

Dia menjelaskan ada tiga kelas segmen dalam pasar tanaman hias, untuk pemula bisa mencoba segmen tanaman umum. Tanaman hiasnya bisa didapatkan di lapak-lapak pinggir jalan, disulap dengan packaging menarik maka bisa meraup untung.

"General plant kalau buat pemula, di lapak-lapak pinggir jalan banyak. Beli dari situ yang bagus-bagus, dikasih pot yang menarik, dijual laku. Belinya Rp 20 ribuan, bisa dijual Rp 100-200 ribu," ujar Rico.

Segmen berikutnya adalah pasar medium tren, harganya sekitar Rp 5 juta per tanaman. Kemudian, paling tinggi segmen tanaman langka bagi kolektor.

Kemudian, Rico mengatakan apabila mau terjun ke bisnis tanaman hias haru rajin belajar. Dia mengatakan awalnya pun dirinya sampai harus belajar dari petani untuk mengurus tanaman.

Tidak sampai di situ, menurutnya, pasar luar negeri tanaman hias sangat besar jumlahnya. Apabila usaha sudah mulai berdiri dan bertahan lebih baik belajar untuk ekspor.

"Jadi kita harus aware pasar global, jadi kalau sudah sustain usahanya, belajar soal ekspor. Pasarnya gimana, kemudian cara ekspornya gimana," ujar Rico.

Rico bercerita dirinya banyak mengekspor tanaman ke daerah Eropa dan Amerika Serikat. Menurutnya, keuntungan Indonesia adalah memiliki banyak varietas tanaman, sementara hal ini tak banyak bisa ditemukan di luar negeri.

"Mereka ini nggak masalah sama biaya, yang penting di sini ada mereka bakal beli," kata Rico.

Keuntungannya pun lumayan, dia mengatakan Titik Hijau saja berhasil menjual hingga Rp 1 miliar nilai ekspor pada bulan Mei lalu.

(dna/dna)