AP II Minta Bantuan Menlu Lobi Saudi Buat Jalur Khusus Umrah

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 24 Okt 2020 23:00 WIB
Sejumlah jemaah umrah yang tertahan dan menunggu kepastian perlahan mulai meninggalkan Bandara Soetta.
Calon Jemaah Umrah/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Indonesia-Singapura telah memiliki kesepakatan Travel Corridor Arrangement (TCA) atau Reciprocal Green Lane (RGL) yang membuka akses bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ke Singapura maupun sebaliknya.

RGL merupakan kesepakatan antara dua negara melalui pemerintah atau government to government (g to g). RGL itu berlaku terbatas, yakni hanya pemerintah dan pebisnis yang boleh bepergian meski masih ada pandemi virus Corona (COVID-19) dan harus melengkapi syarat-syarat dan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan adanya kesepakatan itu, PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) meminta Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi untuk membujuk pemerintah Arab Saudi membuat travel corridor dengan Indonesia. Jalur khusus ini diharapkan dapat mempermudah akses WNI yang hendak umrah ke Tanah Suci.

Namun, travel corridor yang diminta ini sedikit berbeda dengan Singapura, melainkan hanya antara bandar udara (Bandara).

"Kami sedang meminta masukan dari Menlu untuk menggagas antarbandara. Jadi kalau antarbandara kita sebut Airport Corridor Arrangement Initiative. Jadi antara Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, dengan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng," ungkap Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin dalam briefing media secara virtual, Sabtu (24/10/2020).

Pemerintah Arab Saudi akan membuka akses bagi warga setempat, ekspatriat, dan warga luar Saudi yang bebas dari risiko COVID-19 untuk melaksanakan umrah pada 1 November 2020. Namun, kuotanya kemungkinan besar masih dibatasi.

Untuk itu, Awaluddin ingin menyambut kesempatan itu dengan airport corridor agar mempermudah segala prosedur WNI yang hendak berangkat umrah.

"Jadi untuk membantu kecepatan dalam proses-proses klarifikasi atau verifikasi atau screening bagi para penumpang kita dari Indonesia, maupun dari sana," jelas dia.

Ia berharap, ketika umrah dibuka lagi 1 November mendatang, pemerintah RI sudah bisa memperoleh kesepakatan airport corridor.

"Kita ingin jumlah (jemaah umroh) yang sangat terbatas itu, karena ada arrangement antarbandaranya, sehingga nanti safe travel corridor ini kita bikin gagasan dari bandara. Nah ini kita minta dukungan dan endorsement dari Menteri Luar Negeri," tutup Awaluddin.

(ara/ara)