Ancaman Corona buat Sektor Ritel: PHK Sampai Tutup Toko

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Minggu, 25 Okt 2020 14:40 WIB
Hingga hari ini mal Taman Anggrek belum juga buka, Rabu (15/1/2020). Mal yang tutup karena terdampak banjir tersebut hingga hari ini masih gelap.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Industri ritel masih lesu dihantam virus Corona. Kerugian menghantui sektor ritel di tengah lesunya kondisi bisnis ini.

Ketum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan bila kondisi ini terus berlanjut. Gelombang tutup toko mengancam toko ritel.

Bahkan ancaman itu sudah mulai berjalan sekarang. Dia mengungkapkan sudah beberapa toko ritel besar ditutup, perusahaan menutup toko demi menekan biaya operasional.

"Gelombang tutup toko ya. Itu sudah terjadi sekarang juga, lihat aja itu Ramayana, Hypermart, tutup toko, jadi itu kan karena memang secara perhitungan mereka mau mengurangi biaya. Ditutup lah toko-toko yang kinerjanya kurang baik dan merugi," ungkap Budihardjo kepada detikcom, Minggu (25/10/2020).

Bila banyak toko yang ditutup, otomatis kemungkinan PHK akan terjadi. Dia sendiri tidak memiliki data sejauh ini ada berapa orang yang di PHK, hanya saja sejak awal pandemi sudah ada puluhan ribu dirumahkan.

"Nah ini yang merugi makin banyak kan, maka makin banyak toko yang tutup, makin banyak yang berpotensi di-PHK. Kalau data pasti ini nggak ada, sejauh ini saja sudah ada puluhan ribu dirumahkan," kata Budihardjo.

Di sisi lain, Budihardjo pernah mengatakan sekitar 1,5 juta pegawai mal-mal di Indonesia terancam kehilangan pendapatannya. Mulai dari dirumahkan, hingga dikenakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Jumlah tenaga kerja di kami ada sekitar 3 juta. Yang terdampak itu 50%, itu adalah sektor yang ada di pusat belanja atau mal. Nah di mal itu kalau 50% itu terdampak, sudah pasti angkanya sebesar itu yang akan berkurang pendapatannya, maupun dirumahkan. Jadi di 1,5 juta pegawai itu akan terjadi, dan itu belum termasuk keluarganya," kata Budi dalam webinar bertajuk Dalam Keterpurukan Penyewa dan Pusat Perbelanjaan Menghadapi Resesi Ekonomi, Senin (28/9/2020).

Budihardjo sendiri mengatakan saat ini memang kerugian menghantui sektor ritel. Menurutnya, industri ritel bisa rugi hingga Rp 250 triliun tahun ini.

"Kalau semua ritel ya, itu bisa kira-kira Rp 400-500 triliun pendapatannya, kalau dropnya 50%, logikanya karena pembatasan, ya kerugiannya bisa Rp 200-250 triliun lebih kerugiannya," papar Budihardjo.



Simak Video "Lord & Taylor Bangkrut Dihantam Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)