Liputan Khusus

Bioskop Mati Suri, Produser Film Beralih ke YouTube hingga Netflix

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 25 Okt 2020 18:23 WIB
PARK CITY, UT - JANUARY 19:  A general view of atmosphere at the YouTube
Foto: Gettyimages - Andrew H. Walker
Jakarta -

Pandemi COVID-19 tanpa disadari membawa perubahan pada industri film. Industri film kini tak lagi bergantung hanya pada bioskop saja tapi juga mulai melirik pasar online.

"Sekarang sejak bioskop ditutup, jadi memang banyak sekali production house itu beralih ke web series itu bisa masuk ke konten youtube atau nggak di OTT (Over The Top) yang banyak di Netflix, Iflix, video.com," ujar Founder Stunt Fighter Community (SFC) Deswyn Pesik kepada detikcom, Minggu (18/10/2020).

Hal itu diamini oleh Anggota Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia Petruska Karangan.

"Ada satu hal yang saya perhatikan bahwa kemudian memang yang namanya media sosial, online system itu jadi jauh lebih efektif," kata Petruska.

Selama masa pandemi ini, sambung Petruska beberapa rekannya banyak yang beralih kepada produksi web series ketimbang film atau sinetron.

"Ada beberapa teman-teman yang sedang memproduksi yang namanya web series. Itu web series biasanya ditayangin di youtube atau channel khusus. Itu pendek durasinya, ada yang 5 menit, 10 menit, 15 menit, cuman itu orangnya sedikit sehingga mereka bisa jalan," ungkapnya.

Lantaran, memang ada kewajiban untuk membatasi jumlah kru dan pemain saat hendak memproduksi film selama pandemi. Sehingga, para produser film lebih memilih untuk menahan produksi filmnya dan beralih kepada web series ini.

"PSBB, physical distancing itu mempengaruhi banyak karena kalau namanya shooting, mau itu sinetron, film atau iklan itu kan banyak orang yang harus berkumpul di sana, pekerjanya, krunya, belum pemainnya. Nah itu yang jadi salah satu kendala," imbuhnya.

Namun, Petruska tak begitu yakin bahwa ke depan produksi film untuk bioskop bakal ditinggalkan begitu saja. Mengingat keuntungan pembuatan film untuk bioskop dan web series yang tentu jauh berbeda.

"Tetapi memang dari sisi finansial sangat tidak menguntungkan bagi pekerja atau krunya, produsernya juga tentu karena itu berdasarkan sharing iklannya di situ nantinya," ucapnya.

"(web series bakal jalan) tergantung produser karena itu per sponsor kalau mereka bisa meraih sponsorship-nya ya nggak masalah, mereka pasti akan kerjakan terus, cuma memang untuk web series ini mungkin yang agak dikeluhkan oleh teman-teman karena ya namanya take homepay mereka nggak sesuai dengan kualifikasi mereka," sambungnya.

(dna/dna)