Makin Ganas di Asia, Royal Enfield Buka Pabrik Baru di Thailand

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 26 Okt 2020 10:20 WIB
Royal Enfield Tribute Black Edition edisi akhir 500cc Royal Enfield.
Foto: Dok. Royal Enfield
Jakarta -

Royal Enfield, perusahaan pembuat sepeda motor yang lahir di Inggris berkembang secara agresif. Itu karena perusahaan menargetkan pasar sepeda motor terbesar di dunia yakni Asia.

Melansir BBC, Senin (26/10/2020), Royal Enfield merupakan salah satu merek motor dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Perusahaan saat ini dimiliki oleh Grup Eicher India sejak tahun 1994.

Setelah menikmati penjualan yang kuat di pasar lokalnya, perusahaan kini mulai meningkatkan penjualan di seluruh Asia. Baru-baru ini perusahaan mengumumkan rencana untuk membuka pabrik baru di Thailand.

Kepala eksekutif Royal Enfield Vinod Dasari mengatakan, konsumen di Asia sangat menyukai sepeda motor. Namun tidak semua masyarakat Asia mampu membeli motor bermesin besar yang sangat mahal.

"Kami membuat sepeda motor yang jauh lebih baik dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Plus kami merancang dan memproduksi sepeda untuk dunia, bukan hanya India," ucapnya.

Pabrik baru Royal Enfield di Thailand diharapkan dapat beroperasi dalam 12 bulan ke depan dan akan menjadi pabrik perusahaan terbesar di luar India.

Pabrik ini juga akan berfungsi sebagai hub untuk mengekspor ke negara lain di Asia Tenggara termasuk Vietnam, Malaysia dan Cina.

Dasari juga memiliki rencana ambisius yakni meluncurkan satu varian sepeda motor baru setiap kuartal selama tiga sampai lima tahun ke depan.

"Asia Pasifik adalah pasar yang sangat menarik dan penting bagi kami, dan pembeli kami cenderung aspiratif, mencari sesuatu yang lebih baik," ucapnya.

Asia memang memiliki tradisi mengendarai sepeda motor yang kuat. India merupakan pasar penjualan sepeda motor terbesar di dunia, diikuti oleh Thailand, Indonesia dan Vietnam.

Sepeda motor adalah kendaraan paling pas untuk melewati jalan yang sering macet di kawasan ini, terutama di kota-kota besarnya.

Penjualan Royal Enfield, yang hanya membuat sepeda motor di pasar segmen menengah (kelas 250-750cc), telah tumbuh 88% di seluruh wilayah pada tahun lalu.

Sebaliknya nasib buruk justru menimpa Harley-Davidson. Perusahaan yang berbasis di AS itu baru-baru ini mengumumkan penutupannya dari India.

"Produk Harley-Davidson dianggap terlalu besar untuk India. Infrastruktur, kecepatan tertinggi, dan disiplin lalu lintas tidak terlalu cocok untuk berlayar dengan kecepatan tinggi dengan aman," kata Vivek Vaidya, pakar transportasi di konsultan Frost & Sullivan.

"Mereka (Harley-Davidson) mencoba ukuran mesin yang lebih rendah tetapi itu bukan keahlian mereka. Mencoba untuk melawan Royal Enfield di segmen itu tidaklah mudah," tambahnya.

Royal Enfield, sebaliknya, dipandang memiliki produk yang lebih cocok untuk pembeli sepeda di kawasan itu.

(das/eds)