KSSK Ungkap Pertanda Ekonomi RI Mulai Pulih

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 27 Okt 2020 20:35 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan tanda pemulihan ekonomi nasional sudah mulai terjadi pada kuartal III-2020. Hal itu terlihat dari stabilitas sistem keuangan (SSK) nasional yang terjaga.

KSSK terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ketua KSSK sendiri diduduki oleh Menteri Keuangan dalam hal ini Sri Mulyani.

Pemulihan ekonomi nasional serta stabilitas sistem keuangan terjaga merupakan hasil rapat berkala yang dilakukan para anggota pada tanggal 23 Oktober 2020.

"KSSK menyampaikan mengenai hasil rapat berkala di triwulan III-2020 mengenai kondisi stabilitas sistem keuangan atau SSK tetap terjaga sehingga bisa menopang pemulihan ekonomi yang berangsur membaik," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers KSSK secara virtual, Selasa (27/10/2020).

Kondisi SSK yang terjaga itu menandakan tidak membahayakan dan menghambat kegiatan ekonomi nasional. SSK yang terjaga juga berarti sektor keuangan nasional mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan.

Terjaganya SSK nasional juga terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi yang berasal dari krisis kesehatan atau pandemi Corona. Dengan terjaganya SSK menandakan juga sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi, melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik.

Wanita yang akrab disapa Ani ini mengatakan, perbaikan aktivitas ini merupakan titik balik bagi perekonomian dunia maupun Indonesia usai adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga lockdown di hampir seluruh negara.

Pada kuartal II-2020, Sri Mulyani mengungkapkan perekonomian banyak negara termasuk Indonesia terkontraksi dalam. Indonesia sendiri berada di level minus 5,32%.

Sri Mulyani juga menyebut, perbaikan aktivitas ekonomi juga tergambar dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi yang berasal dari lembaga internasional seperti IMF. Di mana dari yang sebelumnya berada di level minus 5,2%, kini menjadi minus 4,4% untuk perekonomian dunia.

"Revisi itu terutama ditopang pemulihan aktivitas ekonomi di triwulan III-2020 di negara-negara maju dan juga RRT yang lebih baik dari perkiraan IMF semula. Juga mobilitas global yang kembali meningkat sesudah mulai dilaksanakannya pelonggaran pembatasan sosial," katanya.

Untuk ekonomi Indonesia sendiri, diproyeksikan pada kuartal III-2020 berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1,0%. Hal itu lebih baik jika dibandingkan dengan realisasi pada kuartal II-2020 yang minus 5,32%.

"Perbaikan berangsur didorong oleh percepatan realisasi dari stimulus fiskal atau APBN dan perbaikan dari sisi ekspor," Ungkap Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

(hek/dna)