Suntikan Modal buat BUMN Sudah Cair, Ini Rinciannya

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 29 Okt 2020 10:30 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Sri Mulyani membahas kondisi ekonomi di tahun 2020.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Akhirnya suntikan modal atau penyertaan modal negara (PMN) di klaster pembiayaan korporasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) cair. Dari lima BUMN, pencairan baru dilakukan terhadap dua BUMN.

Sebanyak lima BUMN ini merupakan bagian dari belasan perusahaan pelat merah yang mendapat suntikan modal di tahun 2020. Adapun, PMN lima BUMN ini anggarannya sebesar Rp 20,5 triliun.

Pagu klaster pembiayaan korporasi di PEN sebesar Rp 53,57 triliun. Pencairan PMN sudah dilakukan untuk PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebesar Rp 1 triliun dan PT Hutama Karya sebesar Rp 3,5 triliun.

"PEN (pembiayaan korporasi) kita lihat sampai akhir Oktober ini yang sudah terealisir adalah PMN," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, seperti dikutip Rabu (28/10/2020).

Dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2020, pemerintah menetapkan dana sebesar Rp 20,5 triliun untuk PMN kepada BUMN. BUMN yang mendapat PMN dalam rangka PEN adalah PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebesar Rp 5 triliun, PT Hutama Karya sebesar Rp 7,5 triliun, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) sebesar Rp 6 triliun, PT PNM sebesar Rp 1,5 triliun, dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) sebesar Rp 500 miliar.

Sementara sisanya, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku masih dalam proses pencairan. Seperti untuk ITDC yang akan menggunakan PMN sebagai modal pengembangan Mandalika. Selanjutnya untuk BPUI yang akan disalurkan kepada Jamkrindo dan Askrindo, serta injeksi kedua untuk Hutama Karya.

"Ini sedang dalam proses," ungkap dia.

Selain itu, Sri Mulyani juga mengungkapkan proses pencairan PMN yang didapat BUMN lainnya di luar dari program PEN. Yaitu PT Sarana Multigriya Finansial sebesar Rp 1,75 triliun yang terbit pada Agutus 2020. Lalu, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar Rp 5 triliun cair pada pertengahan Agustus 2020.

Selanjutnya, untuk PT Geo Dipa Energi senilai Rp 700 miliar. Dana ini akan dimanfaatkan untuk pengembangan geothermal Dieng 2 dan Patuha 2.

"Berbagai injeksi ini sudah mulai mengalir ke sektor riil. Makanya beberapa progam PSN yang sudah dijalankan lagi untuk ruas-ruas jalan tol Sumatera, kemudian untuk PMN UMKM seperti mekaar, juga kita lihat untuk PLN untuk danai listrik pedesaan. Dan untuk SMF adalah untuk program FLPP untuk create demand side dari permintaan rumah untuk MBR," katanya.

Sebelumnya, Komite Penanggulangan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) menyebut anggaran insentif pembiayaan korporasi pada program pemulihan ekonomi nasional sudah cair puluhan miliar sejak dua pekan lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Komite PCPEN Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (21/10/2020).

Budi mengakui, proses pencairan klaster insentif korporasi pada program PEN sangat alot.

"Memang untuk insentif korporasi ini agak alot, jadi sejak diluncurkan kita lihat bahwa proses pencairannya agak alot. Nah kita sudah bekerja sama dengan Kadin, dengan Kementerian Keuangan, alhamdulillah saya bisa laporkan bahwa sudah pecah nih, penglarisnya sudah pecah," kata Budi.

(hek/ara)