Ekonomi Sempat Pulih, Uni Eropa Terancam Resesi Lagi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 02 Nov 2020 16:39 WIB
Menghitung mata uang Euro
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Resesi kembali mengintai Uni Eropa. Setelah laporan kuartal III-2020, kawasan ini berisiko kembali terjun ke jurang resesi karena pembatasan besar-besaran yang bertujuan untuk menekan gelombang kedua kasus pandemi COVID-19.

Kantor Statistik Eropa melaporkan produk domestik bruto (PDB) melonjak 12,1% antara Juli dan September. PDB meningkat 12,7% di 19 negara yang menggunakan mata uang euro. Ekspansi tersebut, mengikuti penurunan besar pada kuartal II dan menjadi terbesar sejak 1995.

Namun ekonomi Uni Eropa tetap sekitar 4% lebih kecil dibandingkan dengan akhir September tahun lalu dan analis memperkirakan pemulihan dalam waktu cepat sangat minim kemungkinannya.

"Gelombang kedua pembatasan pandemi COVID-19 akan mendorong area Eropa ke dalam resesi kedua," kata kepala ekonom Eropa Capital Economics, Andrew Kenningham, dikutip dari CNN, Senin (2/11/2020).

Pemerintah Jerman dan Prancis, ekonomi terbesar di kawasan itu mengumumkan lockdown akan menutup bisnis dan restoran selama beberapa minggu. Italia juga telah mengumumkan pembatasan sebagian, maka bar dan restoran dipaksa untuk tutup pada pukul 6 sore.

Ekonom ING Charlotte de Montpellier mengatakan ekonomi Prancis mengalami penurunan untuk kedua kalinya, menyusul rekor lonjakan 18,2% pada PDB kuartal III, dan prospek pemulihan signifikan pada 2021 semakin minim kemungkinanya.

Sekolah dan beberapa tempat kerja akan tetap buka di Jerman dan Prancis, begitu pula sektor-sektor seperti konstruksi dan manufaktur, yang akan mengimbangi sebagian skala penurunan PDB.

Ekonomi Jerman tumbuh 8,2% antara Juli dan September, tetapi turun 4,2% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu. PDB Spanyol tumbuh 16,7% pada kuartal III, tetapi ekonominya 8,7% lebih kecil dibandingkan periode yang sama di 2019. Ekonomi Italia pulih 16,1% pada kuartal III, tetapi turun 4,7% dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan Purchasing Managers' Index sebelum lockdown diumumkan, aktivitas bisnis di Eropa telah menurun. Meski tingkat pengangguran UE stabil pada bulan September di 8,3%. Tetapi Kenningham memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja kemungkinan akan mengalami tekanan yang meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

(ara/ara)