Pemerintah Masih Pede Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5% Tahun Depan

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2020 18:22 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa turut hadir dan menyerahkan penghargaan kategori UN SDGs kepada April Grup.
Foto: dok. April
Jakarta -

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa yakin ekonomi Indonesia pada 2021 akan tumbuh kisaran 5%. Meskipun, tahun ini Indonesia resesi karena ekonomi di kuartal III-2020 terkontraksi -3,49% setelah kuartal II-2020 juga -5,32%.

"Pertumbuhan saya kira kami tetap punya optimisme, tetap punya angka sekitar 5% (pertumbuhan ekonomi 2021). Mudah-mudahan kita bisa capai dengan berbagai alasan," kata Suharso dalam konferensi pers yang disiarkan melalui Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (5/11/2020).

Dia berharap tren positif terhadap pertumbuhan ekonomi terus berlanjut di 2021. Berbagai program juga telah disiapkan untuk kelanjutan pemulihan ekonomi nasional (PEN) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

"Tahun 2021 mudah-mudahan tren ini akan berlanjut karena kita juga telah mengantisipasi perkembangan pada 2021 di dalam APBN. Bahkan kita menghendaki semua yang bisa kita luncurkan pada 2021 bisa kita selesaikan seluruhnya, yaitu pada proses administrasinya pada November-Desember ini. Sehingga dengan demikian belanja pemerintah akan menjadi prime mover, menjadi lokomotif dan dengan demikian akan mengangkat konsumsi masyarakat," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan bukti bahwa ekonomi sudah mulai pulih dari pandemi COVID-19. Hal itu terlihat dari beberapa indikator seperti konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,7% di kuartal III-2020 jika dibandingkan kuartal II-2020 (quarter to quarter/QtQ), lalu konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh 0,56% secara QtQ, dan konsumsi pemerintah tumbuh 16,93% QtQ.

"Kita melihat bahwa sektoral mulai dari pertanian, pertambangan, itu QtQ, kemudian industri pengolahan juga naik 5,25%. Kemudian pengadaan kegiatan berbasis recycle juga naik 8,3%. Kemudian di sektor warehousing itu melonjaknya tinggi, itu menunjukkan konsumsi sudah mulai membaik yaitu 24,28%. Demikian juga sektor yang terkena dampak besar, yang di kuartal II-2020 negatif yaitu akomodasi makanan dan minuman yang minus 22%, ini meloncat ke 14,79%," papar dia.